Tingkat Keterisian Apartemen di Jakarta Mencapai 57,4 Persen

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi apartemen. REUTERS/Erik De Castro

    Ilustrasi apartemen. REUTERS/Erik De Castro

    TEMPO.CO, Jakarta - Konsultan properti, Cushman and Wakefield, menyatakan tingkat keterisian apartemen di Jakarta sampai dengan kuartal empat 2017 mencapai 57,4 persen.

    “Adapun vacancy rate atau tingkat kekosongan sekitar 42,6 persen," ujar Director Research and Advisory Cushman and Wakefield Arief Rahardjo, Senin, 5 Februari 2018, dalam laporan Cushman and Wakefield, Jakarta Marketbeat 4th Quartal 2017. "Adapun sub sektor layanan apartemen sewa mengalami peningkatan pada kuartal empat 2017." 

    Baca: Indonesia Property Expo, Ada Apartemen di Jakarta Rp 400 Juta

    Bersama dengan sejumlah tenant apartemen yang berdiri dalam jangka panjang, kata Arief, pengembang apartemen juga menerima permintaan baru, yakni para penghuni apartemen dalam jangka waktu pendek. Misalnya, para penghuni untuk hari libur saja meningkat sampai 74,1 persen selama kuartal empat.

    Sementara itu, apartemen sewa yang dibangun secara khusus dengan spesifikasi tertentu justru mengalami penurunan 1 persen, menjadi 70,2 persen selama kuartal empat. Dengan permintaan baru dari pasar, maka dapat diprediksikan pada awal 2018 akan ada keterisian yang tinggi untuk apartemen yang dibangun dengan tujuan tertentu. Misalnya, untuk melengkapi kebutuhan selama Asian Games 2018.

    Rata-rata sewa apartemen berubah dalam kuartal terakhir 2017, dari harga Rp 232.999, lalu Rp 389.750, dan Rp 220.650 per meter persegi pada setiap bulan. Adapun prediksi untuk tahun ini, dengan rupiah yang relatif stabil, maka pertumbuhan bisa dipengaruhi dengan perubahan suku bunga.

    “Total pasokan selama 2017 kuartal empat sekitar 120.853 unit,” katanya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.