Kemenko Maritim Yakinkan Bali Aman ke Negara Penyumbang Turis

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah turis asing menunggu jadwal penerbangan di Bandara Internasional Ngurah Rai yang kembali dibuka usai terdampak erupsi Gunung Agung, di Kuta, Bali, 29 November 2017. REUTERS/Johannes P. Christo

    Sejumlah turis asing menunggu jadwal penerbangan di Bandara Internasional Ngurah Rai yang kembali dibuka usai terdampak erupsi Gunung Agung, di Kuta, Bali, 29 November 2017. REUTERS/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Arif Havas Oegroseno meminta negara-negara yang mengeluarkan travel warning terkait dengan erupsi Gunung Agung di Provinsi Bali, untuk segera melaporkan kondisi sebenarnya kepada pemerintahnya. Arif berharap agar negara-negara tersebut segera merevisi peringatannya.

    “Sebenarnya kondisi di sana, kalau terjadi skenario yang terburuk itu tidak seburuk yang kita bayangkan, sehingga mereka bisa memberikan laporan dan revisi terhadap travel warning kepada pemerintahnya masing-masing,” kata Arif dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Sabtu, 23 Desember 2017.

    Pada Jumat, 22 Desember 2017, Kementerian Koordinator Kemaritiman mengundang beberapa perwakilan dari kedutaan besar negara penyumbang turis bagi Indonesia. Pemerintah menyampaikan bahwa kondisi di Bali masih aman untuk dikunjungi wisatawan. 

    Simak: Gunung Agung Meletus, Jusuf Kalla: 24 Ribu Turis Tak Masuk Bali

    Pertemuan tersebut, kata Arif, dihadiri oleh perwakilan dari Kedutaan Besar Inggris, Cina, Belgia, Jerman, Australia, Korea Selatan, Singapura, Swiss, Jepang, Bangladesh, Filipina, Belanda, Perancis, Qatar, dan Maroko.

    Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), erupsi Gunung Agung bila ditinjau dari letusan sebelumnya yang terjadi pada 1963, hanya berdampak pada 8–10 kilometer dari pusat erupsi. “Gunung Agung itu 65 km dari Denpasar, dan 73 km dari Nusa Dua. Oleh karenanya, daerah yang masih sangat aman, masih sangat luas,” ucapnya.

    Arif menjelaskan bahwa langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia apabila terjadi skenario terburuk, yaitu melaksanakan berbagai simulasi dengan memperhitungkan laporan dari BMKG. Terkait dengan kabar adanya penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai dan jalur laut di Bali, Arif akan melihat kembali data-data yang sudah dimiliki BMKG.

    “Utamanya melihat pattern atau pola arah angin. Nanti kita akan dapat informasi dari BMKG, tetapi prediksi terbaru, 21 Desember 2017, sampai dengan bulan Maret 2018, arah angin adalah ke arah utara atau mengarah lautan dan tidak mengarah ke selatan,” ujarnya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.