Bertemu Anies-Sandi, Budi Karya Bahas Kemacetan Jakarta

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penggantian/perawatan rel kereta. ANTARA/Prasetia Fauzani

    Ilustrasi penggantian/perawatan rel kereta. ANTARA/Prasetia Fauzani

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengharapkan sistem loop line atau lintasan layang kereta api dapat mengatasi kemacetan di Jakarta.

    "Kami akan segera membahas lebih jauh persiapannya," kata Menteri Budi setelah menerima kunjungan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan-Wakil Gubernur Sandiaga Uno di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin, 4 Desember 2017.

    Budi Karya mengemukakan, bila loop line diterapkan di seluruh lintasan sebidang kereta api di Jakarta, anggaran yang dihabiskan diperkirakan mencapai Rp 12 triliun-Rp 15 triliun.

    Baca: Pemerintah Akan Bangun Jalur Loop Line Atasi Perlintasan Sebidang

    Menurut Budi Karya, salah satu yang bakal dibahas lebih lanjut adalah terkait Rancangan Konstruksi Detil (Detail Engineering Desain/DED) dalam rangka mengatasi titik-titik kemacetan di lintasan sebidang kereta api.

    Sebelumnya, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menata 17 titik kemacetan di stasiun-stasiun terpadat di Jabodetabek. "Stasiun-stasiun ini seringkali dimanfaatkan oleh ojek, bajaj, bahkan bus Transjakarta untuk 'mengetem` dan itu berbaris panjang," kata Kepala BPTJ, Bambang Prihartono, dalam diskusi di Jakarta, Minggu. 3 Desember 2017.

    Dia menyebutkan 17 titik stasiun kereta api itu ialah Stasiun Jatinegara, Stasiun Sudirman, Stasiun Juanda, Stasiun Tanah Abang, Stasiun Depok Baru, Stasiun Pasar Minggu, Stasiun Cawang, Stasiun Manggarai, Stasiun Kebayoran Stasiun Cikini, Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Duren Kalibata, Stasiun Palmerah, Stasiun Grogol, Stasiun Tebet, Stasiun Klender dan Stasiun Karet.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.