Selasa, 11 Desember 2018

3 Sebab Generasi Milenial Sulit Memiliki Properti di Usia Muda

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melihat pameran Festival Properti di Kota Kasablanka, Jakarta, 14 November 2017. Dalam pameran ini, para pengembang menawarkan harga properti mulai dari Rp250 juta-an dengan cicilan mulai dari Rp1,5 juta, dengan cakupan lokasi di Jabodetabek. Tempo/Tony Hartawan

    Pengunjung melihat pameran Festival Properti di Kota Kasablanka, Jakarta, 14 November 2017. Dalam pameran ini, para pengembang menawarkan harga properti mulai dari Rp250 juta-an dengan cicilan mulai dari Rp1,5 juta, dengan cakupan lokasi di Jabodetabek. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendiri Trinity Property Group Bong Chandra menyebutkan sejumlah kendala yang membuat generasi milenial belum bisa memiliki properti di usia muda. Bukan hanya karena harga properti yang terus naik tak hanya di negara berkembang tapi juga di negara maju, ketidakmampuan finansial itu juga disebabkan oleh hal lain. 

    Baca: Generasi Milenial Berpeluang Bisnis Properti, Ini Kiatnya

    Bong menyebutkan beberapa kesulitan generasi milenial belum bisa memiliki properti di usia muda karena di antaranya tidak memiliki sejarah rekening. Ada pula kendala terbesar lainnya, antara lain sebagai berikut :

    1. Tak punya cukup dana untuk uang muka hunian (down payment)

    Sebagian dari kaum milenial memiliki penghasilan yang cukup untuk membayar cicilan bulanan properti. "Namun kendalanya bukan itu, tapi tidak cukupnya dana untuk membayar down payment (DP) di awal pembelian properti," ucap Bong.

    2. Tak bankable

    Ditolaknya proses KPR atau KPA dari bank. Alasannya, cash flow pada rekening yang tidak memenuhi standar dan adanya sejarah tunggakan kartu kredit.

    3. Financial planning yang buruk

    "Ini kendala klasik yang menjadi penghambat terbesar kaum milenial yakni masalah financial," ucap Bong. Padahal di usia produktif, sebenarnya menghasilkan lebih banyak dari orang lain. Namun di saat bersamaan juga menghabiskan lebih banyak dari orang lain.

    Bong menyebutkan kenaikan harga properti yang juga terjadi di negara maju seperti Inggris, Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Australia acap kali menjadi momok dari generasi milenial. Dengan kondisi finansial tersebut, sebagian besar generasi milenial tidak dapat memiliki properti impian. "Mereka hanya mampu sebatas menyewa atau mendaftarkan diri untuk mendapatkan subsidi hunian dari pemerintah."

    Sebuah data terbaru dari Business Insider mengungkapkan bahwa sebagian besar pengeluaran generasi milennial dihabiskan untuk gaya hidup, seperti fashion, makan di restoran, dan travelling.

    Untuk mengatasi kondisi tersebut, ada sebuah program yang diciptakan bagi 125 juta generasi milenial di Indonesia agar dapat memiliki properti pertamanya dalam atau kurang dari 5 tahun. Program itu adalah Property for Millenials (PFM). Program PFM didukung penuh oleh Triniti Property Group melalui proyek terbarunya yakni Collins Boulevard, yang berlokasi di Jalan Raya Serpong, Tangerang.

    Dengan program seperti ini diharapkan generasi generasi milenial di Indonesia tidak seperti di negara lainnya. Kebayakan di luar negeri kaum milenial belum memiliki properti yang harganya terus meningkat. "Ya harapan ingin menjadikan kaum milenial Indonesia tidak seperti negara lain, tidak punya tempat tinggal. Kebayakan juga mereka masih menyewa," ujar Bong.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.