Menteri Pertanian Minta Serapan Gabah Naik Dua Kali Lipat

Senin, 19 Juni 2017 | 23:00 WIB
Menteri Pertanian Minta Serapan Gabah Naik Dua Kali Lipat
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menanam benih padi di persawahan Desa Ngebruk, Sumberpucung, Malang, 26 Februari 2015. Mentan dalam kunjungan kerjanya mengatakan, target gabah nasional 2015 sebanyak 73 juta ton. TEMPO/Aris Novia Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminta Bulog untuk meningkatkan serapan gabah. Amran melihat dalam satu minggu terakhir serapan gabah Bulog sudah mulai meningkat dari minggu-minggu sebelumnya.



"Kami sudah diskusi dengan Bulog, kami akan meningkatkan serapan ke depan," kata Amran Sulaiman saat ditemui di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin, 19 Juni 2017.

Simak: Mentan: Gabah Kadar Air 20-30 Persen Tetap Diserap



Amran menuturkan dalam satu minggu terakhir posisi serapan gabah dari 5 ribu ton per hari sudah meningkat. Peningkatan serapan gabah tersebut menjadi sebesar 10 ribu ton gabah per hari. "Jadi naik dua kali lipat hariannya."

Menurut Amran selain gabah, diskusinya dengan Direktur Utama Bulog juga membicarakan penyerapan komoditas bawang merah. "Kami harus menyerap produksi petani yang melimpah."

Simak:  Target Serapan Gabah 2017 Diturunkan



Direktur Pengadaan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), Tri Wahyudi Saleh, sebelumnya mengatakan ada penurunan serapan gabah yang dilakukan pihaknya akhir-akhir ini. Penyebabnya harga gabah yang merangkak naik dan masa panen yang sudah berlalu.

Tri menuturkan harga gabah yang sudah di atas harga pembelian pemerintah (HPP) tentu mempengaruhi pembelian gabah dari petani. Sebab, secara penugasan Bulog diwajibkan membeli gabah dari petani ketika harganya jatuh di bawah HPP, yaitu Rp 3.700 per kilogram untuk gabah kering panen dan Rp 4.600 per kilogram untuk gabah kering giling.

DIKO OKTARA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan