Tekanan Eksternal Picu Pelemahan IHSG 7,18 Poin

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ANTARA/Puspa Perwitasari

    Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 8 September 2017, dibuka melemah sebesar 7,18 poin atau 0,12 persen menjadi 5.825,12 poin.

    Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak melemah 1,81 poin atau 0,19 persen menjadi 969,04 poin.

    Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities, Nico Omer Jonckheere, di Jakarta, Jumat, 8 September 2017, mengatakan bahwa sentimen dari eksternal yang masih cenderung negatif menjadi salah satu faktor yang menekan IHSG.

    "Pasar tetap waspada atas eskalasi risiko Korea Utara di tengah kekhawatiran penembakan misil balistik Korea Utara," katanya.

    Baca: Setelah Menguat, Laju IHSG Diperkirakan Bergerak Sideways

    Dari dalam negeri, ia mengatakan, sentimennya masih cukup kondusif sehingga diharapkan dapat menahan tekanan IHSG lebih dalam. Defisit anggaran hingga Agustus 2017 mencapai 1,65 persen atau senilai Rp 224,3 triliun, lebih rendah dari periode sama 2016 mencapai 2,09 persen.

    Di sisi lain, lanjut Nico, penerimaan pajak hingga akhir Agustus 2017 tercatat Rp 780,037 triliun atau 53 persen dari total target penerimaan dalam APBN Perubahan 2017. Jika dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu, mencatatkan pertumbuhan sebesar Rp 711,447 triliun atau 46 persen dari total APBN Perubahan 2016.

    Bursa regional, di antaranya indeks bursa Nikkei turun 60,32 poin (0,31 persen) ke 19.336,04, indeks Hang Seng menguat 157,51 poin (0,57 persen) ke 27.680,43, dan Straits Times menguat 4,91 poin (0,15 persen) ke posisi 3.232,74.

    Sebelumnya, IHSG hari ini, Jumat, 8 September 2017, diprediksi berpotensi menuju ke area level support antara 5.817 dan 5.801.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.