5 Tahun Merugi, Anak Usaha PLN Ini Akhirnya Untung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah petugas PLN melakukan Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) penggantian ikatan kabel A3CS di isolator yang

    Sejumlah petugas PLN melakukan Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) penggantian ikatan kabel A3CS di isolator yang "flash over" di kawasan Tenau, Kupang, NTT, 21 Juli 2017. ANTARA/Widodo S Jusuf

    TEMPO.COJakarta - Anak usaha PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT PLN Batubara, yang bergerak di bidang penyuplai batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), mencatat kinerja positif selama dua tahun (2016-2017).

    Pada 2016 PLN Batubara berhasil meraup laba Rp 39 miliar setelah selama lima tahun terus merugi. "PT PLN Batubara dua tahun belakangan mulai positif, tahun 2016 untung Rp 39 miliar setelah dalam waktu lima tahun selalu merugi," kata Direktur Utama PLN Sofyan Basir saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, di Gedung Nusantara 1, Jakarta, Selasa, 29 Agustus 2017.

    Baca: PLN Jelaskan Kapan Target Pembangkit 78 Ribu Megawatt Terealisasi 

    Sofyan yakin dapat meningkatkan kinerja perusahaan di masa depan, sehingga PLN Batubara dapat berkontribusi memasok batu bara untuk PLTU milik PLN. "Memang tahun ini masih belum terlalu signifikan tapi sudah alhamdulillah mampu menutupi kerugiannya dan biaya produksinya. Tapi saya optimistis dan percaya (PLN Batubara) bisa tumbuh," ujarnya.

    Saat ini, PLN Batubara menyuplai 10 persen dari total kebutuhan batu bara untuk PLTU milik PLN atau setara 50 juta ton. Sedangkan untuk transportasi kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik, PLN memiliki PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAG).

    Simak: Jaga Pasokan, PLN Bakal Akuisisi Tambang Batu Bara 

    Sebelumnya, PLN melaporkan pendapatan penjualan tenaga listrik PLN selama enam bulan pertama 2017 mengalami kenaikan sebesar 13,2 persen menjadi Rp 122,5 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 108,7 triliun. PLN juga mencatat kenaikan pelanggan dari 64,3 juta pada 2016 menjadi 66,2 juta per Juli 2017 atau naik 1,9 juta pelanggan. Bertambahnya jumlah pelanggan menambah rasio elektrifikasi nasional menjadi 93,1 persen atau naik 1,9 persen dari tahun 2016 sebesar 91,2 persen.

    Aset Perusahaan Listrik Negara juga mengalami peningkatan dari Rp 1.280 triliun pada 2016 menjadi Rp 1.302 triliun pada 2017. Kenaikan jumlah aset ini merupakan imbas dari proyek listrik 35 ribu megawatt yang naik signifikan.

    ROSSENO AJI NUGROHO 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.