Tolak Kenaikan TDL, Ribuan Buruh KSPI Akan Gelar Aksi 105 Watt  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melakukan isi ulang pulsa listrik di salah satu perumahan di Jakarta, 30 November 2015. Tarif listrik pelanggan rumah tangga berdaya 1.300 VA dan 2.200 VA pada Desember 2015 akan mengalami kenaikan sebesar 11,6 persen. ANTARA/M Agung Rajasa

    Warga melakukan isi ulang pulsa listrik di salah satu perumahan di Jakarta, 30 November 2015. Tarif listrik pelanggan rumah tangga berdaya 1.300 VA dan 2.200 VA pada Desember 2015 akan mengalami kenaikan sebesar 11,6 persen. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Ribuan buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) berencana menggelar aksi penolakan terhadap kenaikan tarif dasar listrik (TDL) di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan aksi tersebut dinamai Aksi 105 watt.

    Baca: PLN Mulai Naikkan Tarif Listrik Pelanggan 900 VA

    Aksi itu digelar lantaran buruh menilai pemerintah tidak sensitif terhadap beban masyarakat. Terlebih, kenaikan tarif dasar listrik tersebut dilakukan menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Kenaikan tarif listrik dinilai tidak tepat karena berbarengan harga bahan pokok yang diprediksi akan melambung tinggi.

    “Pemerintah tidak bisa mengendalikan harga (bahan makanan), seperti bawang putih, minyak goreng, daging. Lalu ditambah dengan kenaikan tarif dasar listrik, maka beban masyarakat akan semakin berat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 9 Mei 2017.

    Menurut Iqbal, kenaikan harga listrik akan berdampak terhadap penurunan daya beli buruh hingga 20 persen. Jika berbarengan dengan kenaikan harga bahan pokok, Iqbal memprediksi daya beli masyarakat akan semakin menurun hingga 30 persen. Selain itu, Iqbal mengatakan gaji buruh tidak mencukupi jika harus menghadapi kenaikan tarif dasar listrik.

    “Dengan demikian, gaji buruh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sebulan sehingga harus berutang. Ibaratnya, gali lubang tutup lubang," katanya.

    Iqbal menuturkan tunjangan hari raya (THR) juga belum tentu menutupi kebutuhan hari raya. Apalagi bagi mereka yang berencana mudik atau pulang kampung karena ditambah untuk biaya transportasi. Menurut Iqbal, situasi tersebut akan semakin mempersulit kaum buruh. Karena itu, Iqbal menilai keputusan kenaikan harga listrik sangat tidak masuk akal. Sebab, kata dia, hal itu hanya untuk menutupi defisit anggaran Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang terus merugi. 

    "Ketimbang hanya menaikkan harga listrik seperti rentenir terhadap rakyat kecil dan buruh, mestinya PLN melakukan langkah-langkah efisiensi," ucapnya.

    Simak: May Day, Buruh Tolak Kenaikan Tarif Listrik

    Adapun aksi 10 Mei nanti akan digelar di beberapa kota besar. Aksi tersebut diharapkan bisa menjadi rangkaian aksi perjuangan kaum buruh dan mahasiswa dengan membawa tuntutan tolak kenaikan harga tarif dasar listrik 900 VA. Selain itu, mereka akan menuntut penghapusan tenaga kerja outsourcing, pemagangan, serta menolak upah murah.

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.