Pelemahan Rupiah Jadi Sentimen Negatif Laju IHSG Hari Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pergerakan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 18 Maret 2016.  IHSG ditutup flat di level yang hampir sama dengan kemarin yakni 4.885,71 naik 0,02 poin atau 0%. TEMPO/Tony Hartawan

    Pergerakan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 18 Maret 2016. IHSG ditutup flat di level yang hampir sama dengan kemarin yakni 4.885,71 naik 0,02 poin atau 0%. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Memasuki perdagangan awal pekan ini, risiko pasar emerging market terutama dipicu risiko keluarnya modal asing atau capital outflow yang menyebabkan pelemahan mata uang emerging market terhadap dolar AS termasuk rupiah, masih akan membayangi psikologis pasar.

    Menurut analis ekonomi dari First Asia Capital David Sutyanto, hal ini ikut diperburuk dengan kenaikan yield obligasi di pasar global seperti yield obligasi AS tenor 10 tahun akhir pekan lalu yang naik 3 persen di 2,35 persen.

    David memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG akan bergerak dengan support di 5.130 dan resisten di 5.190 cenderung terkoreksi. "Pergerakan IHSG akan dibayangi dengan kekhawatiran pelemahan rupiah atas dolar AS," kata David Sutyanto dalam pesan tertulisnya, Senin, 21 November 2016.

    IHSG akhir pekan lalu, Jumat, 18 November lalu tutup koreksi 22,90 poin (0,4 persen) di 5.170,10. Menurut David, minimnya insentif positif dan meningkatnya risiko pasar saham emerging market menyusul ekspektasi kenaikan bunga di AS Desember mendatang, telah memicu tekanan di sejumlah harga saham sektoral.

    "Koreksi di sejumlah harga komoditas tambang logam dan perkebunan ikut memicu aksi ambil untung lanjutan atas saham sektoral berbasiskan komoditas," kata David. Sepanjang pekan kemarin IHSG kembali koreksi 1,2 persen setelah pekan sebelumnya koreksi 2,4 persen.

    Meningkatnya risiko capital outflow di emerging market dipicu ekspektasi kenaikan bunga di AS dan yield obligasi di pasar global menjadi pemicu tekanan di pasar saham dan nilai tukar rupiah atas dolar AS yang sepanjang pekan kemarin melemah 0,4 persen di Rp13.408 per dolar AS. "Ini merupakan posisi terendah rupiah dalam lima bulan terakhir," kata David.

    Penjualan bersih asing di pasar saham sepekan kemarin mencapai Rp 3,16 triliun melanjutkan penjualan bersih pekan sebelumnya Rp 4,2 triliun.

    Sementara Wall Street akhir pekan lalu tutup koreksi tipis. Indeks DJIA dan S&P masing-masing koreksi 0,2 persen di 18.867,93 dan 2.181,90. Koreksi terutama dipicu saham sektor energi dan produk kesehatan. David menuturkan, saat ini pelaku pasar tengah konsolidasi dari fase sentimen terpilihnya Trump sebagai Presiden AS dan ke kondisi fundamental perekonomian.

    Selama sepekan terakhir Wall Street melanjutkan penguatan masih didominasi efek terpilihnya Trump sebagai Presiden AS yang akan mendorong belanja infrastruktur pemerintah dan pemotongan pajak korporasi dan individu.

    "Akibatnya, spekulasi pasar atas kenaikan inflasi meningkat dan diperkirakan akan mempercepat kenaikan bunga di AS," kata David.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.