Menengok Karya Penyandang Disabilitas di Jatim Fair

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyandang disabilitas sedang melukis di stan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dalam acara Jatim Fair di Grand City, Surabaya. (RIRIS ARIMBI | TEMPO)

    Penyandang disabilitas sedang melukis di stan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dalam acara Jatim Fair di Grand City, Surabaya. (RIRIS ARIMBI | TEMPO)

    TEMPO.CO, Surabaya -Memiliki keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk tetap berkarya. Sekitar 40 orang penyandang disabilitas yang memiliki kemampuan seni memamerkan  kreativitasnya di stan Dinas Sosial Jawa Timur dalam acara pameran Jatim Fair, yang diselenggarakan di Grand City, Surabaya.

    Usmanul Chotib, staf Dinsos Provinsi Jawa Timur mengatakan para penyandang disabilitas tersebut dibina di panti sosial agar bisa menyalurkan kreativitas, berkarya, dan diajarkan hidup mandiri.  “Ada yang tuna netra, cacat fisik, tuna rungu, tuna rungu-wicara, dan sebagainya,” kata Usmanul, ditemui di stan Dinas Sosial, Rabu 12 Oktober 2016.

    Ada berbagai macam aneka kerajinan hasil karya mereka. Seperti wayang ukir, lukisan, keset, hingga bordir. “Walaupun cacat, mereka punya keahlian tersendiri, jadi bisa mandiri,” ujar pria yang sehari-hari berprofesi sebagai komandan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tersebut.

    Hasil karya tersebut dijual untuk menopang perekonomian para penyandang disabilitas. Dinsos, kata Usman, sama sekali tidak mengambil keuntungan dari penjualan tersebut. “Berapapun hasilnya, kembali ke orangnya,” kata Usman. Dia menambahkan, salah satu pembeli karya-karya tersebut adalah Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.

    Baca juga:
    Permen Jari Berzat Adiktif Ditemukan di Kediri
    Waspada Kejahatan Digital, Cek Unggahan Foto Anak

    Pameran karya penyandang disabilitas itu mengusung tema ‘Kami Mampu Berkarya untuk Jawa Timur Luar Biasa’. Mulyono misalnya. Pria asal Sumberpucung, Malang mengaku senang mendapat undangan dari Dinsos untuk memamerkan karyanya di stan tersebut. “Kami diberi segala fasilitas yang sudah sangat baik. Hotel, makan, akomodasi, dan lain-lain,” tutur pria 40 tahun tersebut.

    Meski dalam kondisi lumpuh, pria ini tak pernah berhenti berkarya. Pemasaran wayang ukir buatannya, sudah cukup terkenal di wilayah lokal. Untuk setiap wayang ukir karyanya dibandrol dengan kisaran harga Rp 350.000 hingga Rp 1.500.000. “Meskipun dijual di Jatim Fair, harga tetap sama. Tidak saya naikkan,” tutur dia.

    Perhelatan Jatim Fair 2016 kali ini diikuti lebih dari 550 peserta. Sebagian besar menampilkan potensi produk unggulan daerah berorientasi ekspor dari berbagai Kabupaten/Kota se-Jatim maupun dari luar Jatim, BUMN/BUMD, perusahaan manufaktur, pengrajin UKM dan koperasi, serta produk lainnya.

    Jatim Fair 2016 menampilkan konser musik nonstop 11 hari dari beberapa band ternama ibukota di antaranya Kahitna, Yovie & The Nuno, Wali. Di area Convention hall lantai 3, selama pameran juga digelar aneka lomba dan kompetisi. Jam buka pameran setiap hari mulai pukul 11.00 sampi 22.00 WIB, dan bebas biaya masuk pada  hari Senin sampai Jumat pukul 11.00-16.00 WIB

    RIRIS ARIMBI | NIEKE INDRIETTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.