Harga Kopi Memasuki Tren Bullish Akibat El Nino

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi es kopi. ottencoffee.co.id

    Ilustrasi es kopi. ottencoffee.co.id

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga kopi memasuki tren bullish seiring dengan menyusutnya pasokan global akibat el nino yang memangkas produksi tanaman di Amerika Selatan dan Asia Tenggara. Pada perdagangan, Selasa, 22 Maret 2016, pukul 17:54 WIB harga kopi untuk kontrak Mei 2016 naik 1,3 poin atau 0,99% menuju ke US$132,85 per pon.

    Permintaan kopi di seluruh dunia akan melebihi pasokan sebanyak 4 juta kantong pada musim yang dimulai 1 Oktober mendatang. Pada periode sebelumnya, defisit mencapai 4,8 juta kantong. Perkiraan kapasitas 1 kantong sama dengan 132 pon atau 60 kilogram.

    Perusahaan berjangka Tristao Trading Co. di Brazil berpendapat persediaan kopi di Negeri Samba pada 30 Juni bakal mencapai level terendah dalam 15 tahun terakhir.

    Managing Director Coex Coffee Group yang berbasis di Miami Ernesto Alvarez menyampaikan, pasokan dunia sangat rapuh sehingga berpotensi mendongkrak harga. Pernyataan ini juga merupakan simpulan hasil konferensi National Coffee Association di San Diego yang berlangsung 15-17 Maret 2016.

    Kekhawatiran berkurangnya pasokan membuat harga kopi mengalami reli dalam beberapa minggu terakhir. Di sisi lain, mata uang dolar AS mengalami penguatan terhadap real Brazil dan peso Kolombia yang memacu peningkatan ekspor.

    "Menyusutnya suplai berbanding terbalik dengan tingkat permintaan yang bakal semakin meninggi," ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (22 Maret 2016).

    Sementara itu, kurangnya curah hujan berpotensi mengurangi hasil panen kopi di Brazil, Vietnam, Kolombia, dan Indonesia. Apalagi stok gudang ICE Futures AS di New York menunjukkan penurunan selama 10 kuartal terakhir.

    Vice President Ecom Agroindustrial Group Eduardo Esteve mengungkapkan, Mexico terancam menghasilkan panen di level terendah dalam 53 tahun terakhir akibat penyakit jamur. Negara tersebut menjual sebagian besar ekspor ke Amerika Serikat.

    Dalam presentasinya saat konferensi, dia menyampaikan keseimbangan antara suplai dan permintaan akan terjadi pada musim 2016-2017. Sementara produksi kopi robusta di Brazil sudah dalam taraf yang mengkhawatirkan.

    Kepala Federasi Petani Kopi Nasional Kolombia Roberto Velez dalam konferensi di San Diego menyampaikan, secara keseluruhan pendapatan sektor pertanian di negaranya bakal berkurang US$200 juta secara tahunan (y-o-y). Adapun produksi kopi pada 2016 bakal berkurang 700.000 kantong menjadi 1,2 juta kantong.

    Commodity Market Outlook Bank Dunia menuliskan tingkat produksi kopi global pada musim 2015-2016 ialah sebanyak 150.122 kantong. Sedangkan tingkat konsumsi berjumlah 148.267 kantong.

    Pada periode tersebut, Brazil menjadi produsen terbesar dengan kontribusi 49.400 kantong. Indonesia berada di peringkat empat dunia dengan produksi sebanyak 10.605 kantong.

    Dari sisi permintaan, Uni Eropa menjadi konsumen terbesar dengan penyerapan 43.850 kantong. Di peringkat kedua, Amerika Serikat mengambil 24.067 kantong, dan Brazil di posisi ketiga sejumlah 20.330 kantong.

    Harga kopi arabika diproyeksikan mencapai US$3.40 per kg pada 2016, terus meningkat tipis sampai 2020 sebesar US$3,44 per kg. Adapun kopi robusta tahun ini diprediksi menuju level US$1,80 per kg dan US$1,84 per kg pada 2020.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.