IHSG Dibuka Menghijau, Naik ke Level 4.740

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siluet seorang pengunjung dengan latar monitor pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 13 November 2015. ANTARA/Rosa Panggabean

    Siluet seorang pengunjung dengan latar monitor pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 13 November 2015. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini melanjutkan tren penguatan. Mengawali perdagangan, Selasa, 16 Februari 2016, Indeks saham dibuka naik 5,27 poin atau 0,11 persen ke level 4.745,99. Begitu pun kemarin, indeks saham naik 26,333 poin atau 0,56 poin ke level 4.740,726.

    "Kami perkirakan hari ini IHSG masih akan bergerak menguat dan bergerak pada kisaran 4.715-4.787,” demikian disampaikan OSO Securities melalui siaran persnya, hari ini.

    Sementara analis bursa dari Mandiri Sekuritas memperkirakan pergerakan IHSG hari ini mash akan bergerak bervariasi (mixed). Estimasi pergerakan indeks hari ini berada di 4.700 sampai dengan 4.798.

    Hari ini, mayoritas indeks sektoral berada dalam zona hijau, yang dipimpin sektor agrikultur yang naik 1,92 persen dan barang-barang konsumen menguat 1,16 persen. Sementara indeks industri dasar dan industri lain-lain terkoreksi 0,67 persen dan 0,51 persen.

    Penguatan yang terjadi pada indeks harga saham tampaknya dipicu oleh sentimen positif yang datang dari eksternal, salah satunya rebound-nya harga minyak dunia. Sementara jika diperhatikan surplusnya neraca perdagangan Indonesia pada Januari sebesar US$ 50 juta tidak begitu berpengaruh cukup signifikan.

    Lantaran hal tersebut bukan terjadi karena kenaikan ekspor, melainkan terjadi penurunan ekspor dan impor masing-masing sebesar 20,72 persen dan 17,15 persen dibandingkan dengan Desember 2015.

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.