Diprotes Warga Karena Limbah, Ternak Babi di Bantul Ditutup

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petugas memeriksa kesehatan babi sebelum  dipotong di rumah potong hewan di Surabaya (29/4). Akibat wabah flu burung, permintaan daging babi turun  hingga 60 persen. Foto: TEMPO/Fully Syafi

    Seorang petugas memeriksa kesehatan babi sebelum dipotong di rumah potong hewan di Surabaya (29/4). Akibat wabah flu burung, permintaan daging babi turun hingga 60 persen. Foto: TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Peternakan babi di wilayah pedukuhan Plebengan, Desa Sidomulyo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akhirnya ditutup setelah mendapat protes warga setempat karena mengeluhkan bau limbah kandang hewan tersebut.

    Pejabat sementara Lurah Desa Sidomulyo, Saryana, di Bantul, Selasa, mengatakan, penutupan peternakan babi tersebut disepakati setelah ada mediasi antara pemilik penternakan dengan warga setempat di Balai Desa Sidomulyo pada Selasa (26 Janauri 2016).

    Ia mengatakan, pihaknya sebagai mediator memberikan apresiasi atas kesepakatan yang merukunkan warganya itu, sehingga setelah ditutup solusi yang bisa diterapkan adalah dengan menggantinya dengan komoditas yang lebih bisa diterima warga.

    Adapun saat mediasi berlangsung, puluhan warga pedukuhan Plebengan Desa Sidomulyo, mendatangi balai desa tersebut guna menyuarakan penolakan peternakan babi dengan membawa berbagai spanduk dan poster.

    Sementara itu, Tri Prabowo, koordinator aksi warga mengatakan peternakan tersebut sudah sekitar 30 tahun beroperasi di wilayah mereka, dan warga sudah berulang kali mengeluh namun tidak segera ditindaklanjuti hingga mereka harus menolak dengan aksi.

    "Warga sudah habis kesabaran karena mereka sudah tidak bisa diajak musyawarah dengan pendekatan baik-baik," katanya.

    Menurut dia, yang dikeluhkan warga adalah bau dari limbah peternakan yang dianggap mencemari lingkungan dan berdekatan dengan tempat ibadah di daerah itu, yang diperkirakan berjarak sekitar 30 meter, sehingga mengganggu ibadah warga.

    Ia mengatakan, keluhan tersebut dilaporkan kepada Satuan Polisi Pamong Praja (Sapol PP) Bantul pada November 2015 dan kemudian ditindaklanjuti dengan mediasi antara pemilik peternakan dan perwakilan warga, namun belum disepakati.

    Akan tetapi, menurut dia, dalam mediasi kedua yang dilakukan mempertemukan perwakilan pemilik dan warga akhirnya didapat kesepakatan untuk menghentikan peternakan babi tersebut.

    Sementara, putra pemilik peternakan babi Legimin, Jumain mengatakan, menindaklanjuti penolakan warga pihaknya telah melakukan rembug keluarga dan setuju menutup peternakan, mulai Selasa (26 Januari 2016) semua kandang dikosongkan dari babi.

    "Kami mohon maaf kepada masyarakat dan lingkungan apabila selama kami memelihara hewan tersebut mengganggu kenyamanan masyarakat," katanya.

    Ia mengatakan, keluarga berharap dengan kesepakatan penutupan peternakan babi yang dicapai tersebut masyarakat di pedukuhan setempat bisa ramah tamah kembali seperti sedia kala dengan pemilik peternakan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.