Potensi Gagal Panen Tanaman Hortikultura Bisa Mencapai 50%

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua orang petani apel Malang berpakaian pocong saat melakukan aksi unjuk rasa, di depan Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, (24/2). Petani menolak kebijakan impor 37 produk hortikultura yang tidak dikenai preferensi harga, terutama apel. TEMPO/Imam Sukamto

    Dua orang petani apel Malang berpakaian pocong saat melakukan aksi unjuk rasa, di depan Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, (24/2). Petani menolak kebijakan impor 37 produk hortikultura yang tidak dikenai preferensi harga, terutama apel. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Produksi hortikultura di Jawa Barat terancam gagal panen akibat gelombang El Nino yang terus terjadi sejak awal Juni lalu.Jika pemerintah tidak cepat mengantisipasi El Nino yang diprediksi berlangsung hingga November tahun ini, potensi gagal panen tanaman hortikultura bisa mencapai 50%.

    Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jabar Entang Sastraatmadja mengatakan komoditas hortikultura yang terancam gagal panen antara lain cabai serta sayur-sayuran karena tidak tahan terhadap kekeringan.

    “Memang tanaman itu tidak membutuhkan banyak air, tapi tetap kondisi lahan jangan sampai kering,” katanya, Selasa, 28 Juli 2015.

    Dia mengatakan saat ini pemerintah hanya memperhatikan dampak El Nino terhadap komoditas pangan strategis seperti padi. 

    Padahal, hortikultura pun harus diperlakukan sama mengingat komoditas itu juga sering menyumbang inflasi yang cukup tinggi.

    "Pemerintah harus secepatnya melakukan banyak hal untuk membantu petani agar mereka tidak mengalami kerugian. Terlebih El Nino diperkirakan berlangsung lama hingga November mendatang," ujarnya. 

    Wakil Ketua Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jabar Nono Sambas mengkhawatirkan luas areal tanaman hortikultura yang gagal panen besar jika El Nino terjadi hingga November mendatang.

    "Saat ini kekeringan areal pertanian termasuk lahan hortikultura merata terjadi hampir di semua wilayah baik dataran rendah maupun daerah datan tinggi," katanya.

    Kondisi ini diperparah dengan banyaknya irigasi teknis yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Untuk mengatasi hal itu, pada umumnya petani di Jawa Barat sudah membuat sumur pantek dan melakukan pompanisasi.

    Dia menjelaskan, bagi daerah yang memiliki sungai dan stok air yang masih mencukupi, petani bisa mengatasi dengan meminjam pompa dari Dinas Pertanian. Tapi, celakanya bagi daerah yang tidak ada air dan tidak ada pompa yang bisa dipinjam.

    "Perlu ada upaya serius untuk mengatasi hal ini agar petani tidak semakin dirugikan," ujarnya.

    Nono menjelaskan El Nino seperti saat ini tidak cukup dengan melakukan Salat Istisqa, tapi harus ada upaya lain agar air pada saat musim hujan bisa disimpan dan bisa digunakan saat kemarau.

     BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.