Jokowi ke Singapura untuk Bertemu 150 Pengusaha Besar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi (ketiga kanan) dan Ibu Iriana, sarapan bersama PM Singapura, Lee Hsien Loong dan istrinya, 22 November 2014. Jokowi berada di Singapura untuk menghadiri wisuda putranya, Kaesang Pangarep pada Jumat malam, 21 November 2014. Facebook.com/Lee Hsien Loong/MCI/LH Goh

    Presiden Jokowi (ketiga kanan) dan Ibu Iriana, sarapan bersama PM Singapura, Lee Hsien Loong dan istrinya, 22 November 2014. Jokowi berada di Singapura untuk menghadiri wisuda putranya, Kaesang Pangarep pada Jumat malam, 21 November 2014. Facebook.com/Lee Hsien Loong/MCI/LH Goh

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo bertolak ke Singapura untuk melakukan kunjungan selama dua hari, 28-29 Juli 2015. "Acara Presiden adalah kunjungan kenegaraan dan setelah itu, siangnya bicara dengan forum pelaku bisnis yang diorganisir Singapura," ujar Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

    Rencananya Jokowi akan bertemu Presiden Singapura Tony Tan Keng Yam dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

    Pada Selasa siang, 28 Juli 2015, Presiden akan bertemu 150 CEO perusahaan-perusahaan besar. "Saat ini Singapura merupakan salah satu mitra utama Indonesia di bidang perdagangan, investasi dan pariwisata," tulis siaran pers Kementerian Luar Negeri.

    Tema utama dari kunjungan Jokowi kali ini memang untuk lebih memajukan kerja sama ekonomi kedua negara. Pada 2014, total perdagangan Indonesia dengan Singapura mencapai 41,99 miliar dolar AS atau kedua terbesar setelah Cina.

    Dalam bidang investasi, Singapura menempati posisi pertama investor terbesar di Indonesia dalam lima tahun terakhir dengan total investasi tahun 2014 mencapai 5,8 miliar dolar AS di 2.056 proyek. Wisatawan Singapura juga merupakan kunjungan wisatawan asing terbesar di Indonesia sejumlah 1.519.223 orang di tahun 2014, meningkat 10,12% dari tahun 2013.

    Selain isu bilateral, kunjungan ini juga akan dimanfaatkan untuk membahas isu mengenai ASEAN. Bagi Indonesia, ASEAN Community 2015 harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat ASEAN, salah satunya berkaitan dengan nasib para pekerja migran. "Indonesia saat ini tengah memperjuangkan adanya legally binding instrument bagi perlindungan buruh migran ASEAN," tulis rilis tersebut.

    TIKA PRIMANDARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.