Smartfren dan Hisense Buka Service Centre di Semarang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Smartfren memperkenalkan dua produk terbarunya yaitu Smartfren Andromax T dan Smartfren Andromax Tab 8.0 di Jakarta, (3/10). TEMPO/Imam Sukamto

    Smartfren memperkenalkan dua produk terbarunya yaitu Smartfren Andromax T dan Smartfren Andromax Tab 8.0 di Jakarta, (3/10). TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COJakarta - Perusahaan smartphone terkemuka, Hisense, bersama PT Smartfren Telecom Tbk meluncurkan pusat layanan atau service centre di Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 3 Juli 2015.

    Regional Director Hisense Asia-Pasific Stephen Qu mengatakan pembukaan galeri layanan tersebut merupakan bentuk komitmen pihaknya untuk semakin mempermudah layanan purnajual, khususnya bagi pelanggan Smartfren.

    "Semartfren selama ini menjadi partner eksklusif dalam memasarkan smartphone Hisense. Karena itu, kami merasa perlu terus memberikan layanan purnajual yang maksimal," katanya di sela-sela seremoni peresmian.

    Produk terakhir Smartfren yang berasal dari Hisense, kata Stephen, antara lain Smartfren Andromax R, Qi, dan ES. Adapun, dia menuturkan, tiga galeri layanan serupa yang telah dimiliki Hisense berlokasi di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

    Djoko Tata Ibrahim, Deputi Chief Executive Officer Smartfren, menjelaskan wilayah Jawa Tengah dan DIY masih memiliki potensi yang sangat besar. baik bagi penjualan produk telekomunikasi maupun layanan data. Karena itu, dia melanjutkan, wilayah Jawa Tengah menjadi salah satu wilayah yang akan ditingkatkan layanannya.

    Dengan demikian, kata Djoko, pihaknya bersama Hisense, yang selama ini menjadi salah satu vendor ponsel Smartfren, membuka service centre pertama di Jawa Tengah-DIY. "Membuka cabang ini sebagai bukti peningkatan jangkauan layanan purnajual. Kami ingin memberikan setiap detail layanan dengan sempurna," ujarnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.