Freeport Bangun Smelter dan Tambangan Bawah Tanah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Grasberg Mine milik PT. Freeport Indonesia di Tembagapura, Mimika, Timika, Papua, 15 Februari 2015. Executive Vice President dan General Manager Operational Freeport, Nurhadi Sabirin mengatakan terdapat peluang tambang tersebut menjadi tempat wisata setelah wilayah itu habis masa eksplorasinya. ANTARA/M Agung Rajasa

    Grasberg Mine milik PT. Freeport Indonesia di Tembagapura, Mimika, Timika, Papua, 15 Februari 2015. Executive Vice President dan General Manager Operational Freeport, Nurhadi Sabirin mengatakan terdapat peluang tambang tersebut menjadi tempat wisata setelah wilayah itu habis masa eksplorasinya. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Freeport menyampaikan komitmennya saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo untuk melanjutkan investasi dan juga sejumlah hal termasuk membangun smelter dan juga pertambangan bawah tanah.

    "Jadi baru saja Presiden menerima kehadiran chairman dari PTFI Pak Jim Moffett. Pada intinya, Pak Jim menyampaikan komitmennya untuk terus berinvestasi di Indonesia," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said di Kompleks Istana Presiden Jakarta, Kamis (2 Juli 2015).

    Sudirman mengatakan Freeport sudah menyampaikan komitmen untuk investasi sebesar 18 miliar dolar AS yang  2,5 miliar dolar AS di antaranya untuk pembangunan smelter.

    "Sisanya untuk pembangunan underground mining atau tambang bawah tanah, yang kalau segalanya lancar, maka pada September ini akan di launching. Dan pertambangan bawah tanah di Papua akan menjadi tambang bawah tanah terbesar di dunia," katanya.

    Selain menyampaikan komitmen investasi, Moffet juga, kata Sudirman, menyampaikan komitmen Freeport untuk mematuhi seluruh aturan yang ada.

    "Jadi apapun yang diatur oleh pemerintah, PTFI akan mengikuti, kemudian melaporkan berbagai pencapaian yang sudah dikerjakan," katanya.

    Ia menambahkan,"Presiden memberikan arahan beberapa hal, pertama keberadaan PTFI harus lebih mempercepat proses pembangunan ekonomi di Papua dan juga di Indonesia. Ini sejalan dengan Keppres no. 16 yang kemarin digulirkan, untuk melihat secara keseluruhan bagaimana progres dikaitkan dengan keberadaan dari perusahaan tambang dan perusahaan sumber daya mineral, seperti freeport dan lain-lainnya."

    "Yang kedua, memberikan arahan supaya local content ditingkatkan. Bahkan tadi secara spesifik Pak Moffett menyampaikan akan membeli alat-alat berat dari Pindad, kemudian akan juga membeli sebagian bahan peledak yang dibutuhkan dari Pindad dan Dahana," kata Sudirman.

    Ia mengatakan,"yang ketiga adalah, supaya Freeport meningkatkan partisipasinya untuk membangun infrastruktur wilayah di tempat mereka berada, dan malahan memberikan pesan khusus agar PLTA Uru Muka di Kabupaten Mimika segera dimulai."

    PLTA tersebut kapasitasnya lebih dari 1.000 MW, 400 MW di antaranya akan dimanfaatkan Freeport untuk tambang bawah tanah, sisanya digunakan masyarakat setempat.

    "Ini pesan-pesan Presiden kepada Pak Moffett, dan saya diminta terus mengikuti progres itu, dan saya juga bisa sampaikan kepada teman-teman bahwa selama proses negosiasi berlangsung, enam bulan terakhir pencapaiannya sangat signifikan," paparnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wacana Liberalisasi Penerbangan, Pemerintah Undang Maskapai Asing

    Pemerintah membuka wacana liberalisasi penerbangan dengan mengundang maskapai asing untuk mengoperasikan rute domestik demi memperketat kompetisi.