Industri Mainan Lokal Kesulitan Akses Pasar Besar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak memilih mainan mobil sport yang akan dibeli di pasar Gembrong, Jakarta, 19 Mei 2015. Kementerian Perdagangan akan mengendalikan tujuh produk impor yang berpotensi mendistorsi pasar dalam negeri, salah satunya mainan anak. Tempo/Tony Hartawan

    Seorang anak memilih mainan mobil sport yang akan dibeli di pasar Gembrong, Jakarta, 19 Mei 2015. Kementerian Perdagangan akan mengendalikan tujuh produk impor yang berpotensi mendistorsi pasar dalam negeri, salah satunya mainan anak. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelaku industri produk mainan anak hingga kini masih mengalami kesulitan akses, terutama untuk akses pasar seperti ke ritel-ritel besar maupun akses untuk mendapat kredit.

    Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI) Widjonarko Tjokroadisumarto mengatakan selama ini ritel-ritel besar kerap meminta pelaku industri mainan anak untuk menyetorkan dana di muka. Hal ini dianggap membatasi akses pelaku usaha kecil menengah (UKM) untuk masuk ke pasar ini.

    “Kami itu mayoritas UKM. Seolah-olah ini semacam subsidi dari pihak yang tidak punya ke yang punya,” ujarnya pada pembukaan Pameran Pakaian dan Mainan Anak di Plaza Perindustrian, Selasa, 9 Juni 2015.

    Terkait soal kredit, Widjonarko mengatakan masih banyak pelaku yang kesulitan untuk mendapat bantuan kredit. Dia menyarankan agar pemerintah membuat kebijakan agar giro deposit wajib bagi bank yang sekarang mencapai 8% dapat dikurangi apabila kredit yang dikeluarkan bank tersebut mayoritas untuk UKM.

    Tahun lalu, nilai ekspor produk mainan anak berkisar US$500 juta dengan negara sasaran AS, Eropa, Jepang dan Timur Tengah. Meski demikian, Widjonarko mengatakan sulit untuk melacak pasar dalam negeri dengan banyaknya UKM yang tidak terdata, juga karena banyaknya barang impor di pasar.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?