Kuota BBM Subsidi Masih 15,5 Juta Kiloliter

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengoprasikan selang Pertamax Plus di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina kawasan Otista, Jakarta (26/8). Habisnya persediaan  Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di beberapa SPBU di daerah merupakan konsekuensi dari pengaturan kuota yang diterapkan. Tempo/Aditia noviansyah

    Petugas mengoprasikan selang Pertamax Plus di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina kawasan Otista, Jakarta (26/8). Habisnya persediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di beberapa SPBU di daerah merupakan konsekuensi dari pengaturan kuota yang diterapkan. Tempo/Aditia noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution PT Pertamina (Persero), Suhartoko, mengatakan sisa kuota bahan bakar minyak bersubsidi masih sebanyak 15,5 juta kiloliter. Sampai dengan 18 Agustus 2014, sisa kuota Premium masih 10 juta kiloliter sedangkan solar masih 5,5 juta kiloliter.

    "Kilang jalan terus. Impor juga jalan terus," kata Suhartoko saat dihubungi, Selasa, 26 Agustus 2014.

    Sebelumnya, berdasarkan data per 31 Juli 2014, sisa kuota BBM bersubsidi masih 18 juta kiloliter. Rinciannya, kuota Premium dan solar masing-masing masih tersisa 12 juta kiloliter dan 6 juta kiloliter. (Baca: Beli BBM Bersubsidi, Pengendara Antre Empat Jam)

    Menurut Suhartoko, Pertamina bisa saja tak membatasi pasokan harian Premium dan solar ke stasiun pengisian bahan bakar umum. Namun tanpa pembatasan, diprediksi sisa kuota sudah akan habis sebelum akhir November 2014. Padahal, pemerintah sudah mengunci kuota BBM subsidi sebesar 46 juta kiloliter sampai akhir tahun. "Karenanya pasokan hariannya yang dikurangi supaya nyampe akhir tahun," kata dia.

    Suhartoko menjelaskan Pertamina membatasi pasokan Premium ke SPBU sebesar 5 persen dibanding hari normal, dan 10 persen untuk solar. (Baca: Harga BBM Naik, Inflasi Melonjak 1 Persen)

    Pembatasan pasokan itu berlaku mulai 18 Agustus 2014. Ia juga membantah bahwa Pertamina sempat memotong pasokan Premium sampai 50 persen.

    Adapun untuk stok yang tersedia, kata Suhartoko, per Sabtu, 23 Agustus 2014, stok Premium masih cukup untuk 18 hari kebutuhan nasional dengan acuan konsumsi normal 80 ribu kiloliter per hari. Adapun stok solar masih cukup untuk 20-21 hari dengan acuan konsumsi nasional 44 ribu kiloliter per hari.

    KHAIRUL ANAM

    Berita Terpopuler:
    Kritik Ahok: Jokowi Lelet Ambil Keputusan
    Golkar Terancam Ditinggal Koalisi Pendukung Jokowi
    Penolakan Tifatul di Medsos, PKS: Alasannya Apa?
    Ahok Diminta Waspadai Serangan PKS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).