Industri Logistik Jajaki Digitalisasi di Tengah Pandemi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi belanja online / e-commerce. freepik.com

    Ilustrasi belanja online / e-commerce. freepik.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Riyanto, mengatakan pandemi Covid-19 membuat jumlah pesanan logistik untuk barang-barang e-commerce di dalam negeri meningkat 30 hingga 40 persen selama pandemi.

    Menurut Mahendra, hal ini merupakan imbas dari banyaknya masyarakat yang masih bekerja dari rumah disertai pembatasan aktivitas di luar ruangan oleh pemerintah. 

    “Pandemi telah membawa bonus perkembangan e-commerce dalam lima tahun ke depan,” kata Jonathan Zhong, CEO J&T Cargo Indonesia seperti dikutip dari Xinhua pada Kamis, 29 Juli 2021.

    Eric Dharma, Wakil Presiden Pengembangan Korporat Waresix, startup platform truk logistik dan pergudangan di Indonesia, mengatakan walau membawa berkah untuk industri logistik, pandemi juga mengekspos buruknya infrastruktur, informasi yang terfragmentasi, dan kurangnya penerapan teknologi. Buruknya digitalisasi dalam industri ini seperti kontrak yang masih ditulis tangan dan komunikasi dilakukan melalui saluran ad hoc seperti WhatsApp.

    “Untuk beberapa perusahaan logistik, seluruh proses penerimaan pesanan, pencarian pengemudi, truk, dan gudang terlalu manual untuk disederhanakan,” kata Eric.

    Jonathan Zhong mengatakan, ongkos pengiriman barang di Indonesia menjadi cukup mahal. "Tidak umum bagi orang Indonesia untuk membeli peralatan elektronik yang relatif (berukuran) lebih besar seperti kulkas, AC, dan mesin cuci secara daring,” kata Zhong.

    Menurut studi tahun lalu yang dilakukan Lazada, 65 persen responden dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum terdigitalisasi menyatakan bahwa logistik merupakan salah satu tantangan terbesar mereka. Sistem logistik di pulau-pulau lain bahkan lebih tidak efisien dibandingkan Pulau Jawa, yang berujung pada disparitas harga.

    “Harga untuk barang yang sama di berbagai wilayah di Indonesia bisa sangat berbeda,” kata Budi Handoko, COO sekaligus salah satu pendiri aggregator logistik Shipper.

    Menurut dia, persoalan ini umum ditemui di negara dengan geografi yang terfragmentasi seperti Indonesia. Handoko mengatakan persoalan ini dapat diselesaikan melalui manajemen logistik digital.

    Digitalisasi logistik ini mendorong munculnya platform digital seperti Kargo, Ritase, Shipper, dan Waresix. Perusahaan tersebut merupakan agregator dan menawarkan solusi logistik end-to-end di mana truk, pengemudi, dan gudang diseleksi oleh sistem agar sesuai dengan kebutuhan pengirim.

    Perusahaan logistik pihak ketiga seperti J&T Express juga tak mau ketinggalan memaksimalkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi. Melalui 1.500 orang lebih tim teknologi informasi (TI) yang dimilikinya, mereka terus memperbarui teknologi yang digunakan selama operasinya.

    Hasilnya, J&T Express pada April 2021 meluncurkan layanan tercepatnya yang diberi nama “J&T Super”. Layanan ini memungkinkan paket akan sampai pada hari yang sama untuk pengiriman dalam kota atau dalam waktu kurang dari dua hari untuk pengiriman antarkota.

    Sementara itu, platform e-commerce terkemuka di Indonesia seperti Shopee dan Lazada menyediakan solusi pengiriman in-house dalam beberapa tahun terakhir untuk mempercepat distribusi last-mile (pengiriman tanpa campur tangan pihak ketiga) dari hub transit ke pelanggan.

    Guna memangkas biaya logistik, pemerintah Indonesia membentuk Ekosistem Logistik Nasional pada September tahun lalu, yang berfungsi sebagai platform untuk mencatat, menyederhanakan, dan pada akhirnya mempercepat proses perpindahan barang dari pelabuhan ke gudang yang semula berbasis kertas.

    Sebuah proyek percontohan di bawah sistem baru ini diluncurkan di Batam, Kepulauan Riau, pada Maret lalu, dan sistem digital serupa rencananya akan diaplikasikan di tujuh pelabuhan lain tahun ini, menurut pemerintah. Pihak pelabuhan akan membantu mengurangi biaya pengiriman, distribusi, dan biaya terkait lainnya hingga 17 persen dari PDB hingga tahun 2024.

    “Semakin banyak shipper (pengirim) yang menyambut solusi digital untuk logistik mereka,” kata Dharma dari Waresix. “Alih-alih reaksi spontan untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek, kami berharap dapat melihat lebih banyak inovasi terobosan di industri ini.”

    XINHUA I M Julnis Firmansyah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.