OJK: Masyarakat Korban Investasi Ilegal dan Pinjol Banyak yang Bergelar S-2

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan atau OJK. Tempo/Tony Hartawan

    Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan atau OJK. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Dewan Komisioner Bidang Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan atau OJK, Tirta Segara, mengatakan masyarakat yang terjebak pinjaman online dan investasi ilegal tak hanya berasal dari kelompok berpendidikan rendah. Ia menyebut banyak orang bergelar sarjana, bahkan master atau lulusan S-2, menjadi korban perusahaan financial technology (fintech) ilegal.

    “Kami melihat ada yang ingin cepat kaya, tapi enggak melalui kerja keras. Dari hasil temuan, bukan hanya masyarakat yang pendidikan rendah yang jadi korban, tapi juga banyak yang sarjana, S-2,” ujar Tirta dalam webinar yang ditayangkan di akun YouTube Infobank seperti dikutip pada Senin, 19 April 2021.

    Menurut Tirta, korban fintech ilegal umumnya merupakan kelompok yang kurang bijak mencari pendanaan. Meski mempunyai latar belakang pendidikan tinggi, tak menjamin seseorang memiliki tingkat literasi keuangan yang memadahi.

    Berdasarkan catatan OJK, tingkat literasi keuangan di Indonesia tidak sebanding dengan pertumbuhan inklusi digital. Per 2019, tingkat literasi masyarakat terhadap keuangan baru mencapai 38 persen, sedangkan pertumbuhan inklusi keuangan sudah melesat sebesar 76 persen.

    Tingkat literasi masyarakat terhadap produk investasi atau pasar modal pun lebih rendah, yakni hanya 5 persen. Di samping itu, masyarakat umumnya tak memahami konsep underlying investasi dan prinsip korelasi antara risiko dan imbal hasil. Lantaran mengesampingkan prinsip ini, masyarakat terbuai dengan janji bunga tinggi serta imbal hasil tanpa risiko.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pertanyaan Ganjil dalam TWK yang Mesti Dijawab Pegawai KPK

    Sejumlah pertanyaan yang harus dijawab pegawai KPK dalam TWK dinilai nyeleneh, mulai dari hasrat seksual hingga membaca doa qunut dalam salat.