Kalung Eucalyptus Kementan Segera Diproduksi Massal

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kalung anti virus buatan Kementerian Pertanian. pertanian.go.id

    Kalung anti virus buatan Kementerian Pertanian. pertanian.go.id

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa inovasi kalung dan produk lainnya yang berbahan dasar daun eucalyptus atau Kalung Eucalyptus diklaim berpotensi dapat membunuh virus Corona atau Covid-19. Produk tersebut ditargetkan siap diproduksi secara massal dalam waktu dekat.

    "Produksi untuk inhaler dan roll on akan siap akhir bulan Juli, sementara kalung pada bulan Agustus. Produk ini belum melalui uji klinis, karena Uji klinis harus dilakukan oleh Tim Dokter, dimana untuk kasus uji klinis harus diketuai oleh Dokter spesialis Paru,” Kepala Badan Litbang Pertanian Kementan, Fadjry Djufry, saat konferensi pers secara daring, Senin 6 Juli 2020.

    Adapun produk yang akan diproduksi dalam berbagai bentuk seperti inhaler, roll on, balsem, diffuser, dan juga kalung yang berbahan dari daun ecalyptus. Dalam proses produksinya, Kementan pun menggandeng PT Eagle Indo Pharma guna pengembangan serta produksi.

    Fadjry menjelaskan, bahwa produk turunan eucalyptus sudah digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk gangguan saluran pernafasan, karena punya kemampuan sebagai pelega saluran pernafasan, pengencer dahak, pereda nyeri, pencegah mual, anti inflamasi dan efek menenangkan.

    Pihaknya pun telah melakukan uji coba, kepada 16 pasien positif. Pihaknya hanya mencatat testimoni mereka, tetapi tidak melakukan pengujian terhadap kondisi kesehatannya.  Testimoni diantaranya, yakni melegakan pernapasan, menghilangkan pusing, mual dan nyeri lainnya, perasaan lebih nyaman dan tenang.

    Namun untuk produk-produk tersebut menjadi antivirus virus Corona, kata Fadjry masih diperlukan penelitian lebih lanjut agar terbukti secara klinis. "Kami tidak mengklaim bahwa kalung ini dapat berfungsi sebagai anti covid-19, tetapi memang memiliki potensi untuk seperti itu dan masih diperlukan penelitian uji klinis yang membutuhkan waktu setidaknya 18 bulan," ucapnya.

    Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Herawati Sudoyo sebelumnya mengatakan kalung ciptaan Kementerian Pertanian yang diklaim antivirus influenza hingga Corona atau Kalung Antivirus Kementan dapat menimbulkan disinformasi di masyarakat. Musababnya, kalung berbahan atsiri alias eucalyptus ini adalah kalung herbal yang fungsinya bukan membunuh virus.

    “Klaim seperti antivirus seharusnya tidak dibuat karena akan menyebabkan persepsi yang salah bahwa tanaman herbal dapat membunuh virus,” kata Herawati kepada Tempo, Ahad, 5 Juli 2020.

    Herawati menjelaskan, satu senyawa aktif yang terdapat dalam eucalyptol hanya mungkin berperan sebagai penghambat replikasi virus. Namun, eksperimen in silico yang hasilnya keluar pada Maret lalu ini hanya bersifat modeling dan belum pernah dipelajari lebih lanjut.

    Di samping itu, kata Herawati, obat ampuh maupun vaksin untuk jenis virus yang menyebabkan Covid-19, yakni Sars Cov-2, hingga kini belum ditemukan oleh ilmuwan dunia. “Kita juga tahu bahwa perlu waktu untuk dapat mencari senyawa aktif kandungan eucalyptus yang dengan uji biakan virus memperlihatkan bahwa virus tidak bereplikasi,” tuturnya.

    Dengan begitu, menurut dia, temuan Kementerian Pertanian belum dapat dibuktikan ampuh terhadap Covid-19. Ihwal keterlibatan Eijkman, ia memastikan bahwa lembaganya tidak turut dalam proses penemuan kalung itu.

    FRANCISCA CHRISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa Efek Buruk Asupan Gula Berlebih Selain Jadi Penyebab Diabetes dan Stroke

    Sudah banyak informasi ihwal efek buruk asupan gula berlebih. Kini ada satu penyakit lagi yang bisa ditimbulkan oleh konsumsi gula berlebihan.