Menteri Airlangga: New Normal Dongkrak Ekonomi RI

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjawab pertanyaan wartawan terkait peluncuran situs resmi Kartu Prakerja di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat 20 Maret 2020. Pemerintah resmi meluncurkan situs Kartu Prakerja yang diharapkan dapat membantu tenaga kerja yang terdampak COVID-19 untuk meningkatkan keterampilan melalu berbagai jenis pelatihan secara daring yang dapat dipilih sesuai minat masing-masing pekerja. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjawab pertanyaan wartawan terkait peluncuran situs resmi Kartu Prakerja di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat 20 Maret 2020. Pemerintah resmi meluncurkan situs Kartu Prakerja yang diharapkan dapat membantu tenaga kerja yang terdampak COVID-19 untuk meningkatkan keterampilan melalu berbagai jenis pelatihan secara daring yang dapat dipilih sesuai minat masing-masing pekerja. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kinerja perekonomian mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda penguatan pada pertengahan Juni 2020 seiring dengan adanya pemberlakuan normal baru atau new normal.

    Airlangga mengatakan pemberlakuan new normal telah memberikan kontribusi kepada penguatan nilai tukar maupun IHSG serta kembali masuknya aliran modal kepada perekonomian nasional.

    "Dengan new normal, kegiatan masyarakat sudah mulai bergerak ke arah positif. Kemudian kalau dilihat dari fundamental dan sentimental perekonomian juga mendapatkan momentum positif," katanya saat mengisi webinar di Jakarta, Jumat, 26 Juni 2020.

    Menurut dia, beberapa sektor yang mulai bergerak naik antara lain industri otomotif, pertambangan, bahan bangunan, jasa keuangan, teknologi informasi, alat berat, permesinan, pengemasan barang, dan pembangkit energi.

    Beberapa sektor tertentu bahkan tidak mengalami pengaruh selama masa pandemi COVID-19 dan kinerjanya justru meningkat, yaitu industri rokok dan tembakau, makanan pokok, batubara, farmasi dan alat kesehatan, serta minyak nabati.

    "Minyak nabati ini terutama Crude Palm Oil (CPO), karena kita berhasil membuat program B30. Inilah sektor-sektor yang dapat menghela Indonesia untuk recover lebih cepat," ujar mantan Menteri Perindustrian ini.

    Airlangga mengatakan pentingnya upaya untuk mendorong normal baru untuk memulihkan kinerja perekonomian juga diutarakan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN Summit ke-36 yang berlangsung Jumat, 26 Juni 2020 di tengah pandemi COVID-19.

    "Efek dari COVID-19 ini tidak dialami oleh Indonesia saja, tapi juga sekitar 215 negara lain di dunia. Dalam KTT ASEAN tadi, semua menyampaikan hal yang sama bahwa sudah masuk di dalam era new normal dan mendorong bagaimana melakukan reset ekonomi," katanya.

    Selain itu, ujar Airlangga, berbagai negara sudah sepakat bahwa vaksin untuk COVID-19 adalah barang milik bersama (public goods) yang berarti tidak ada pengenaan hak kekayaan intelektual atas penemuan vaksin tersebut karena pandemi ini adalah krisis kemanusiaan.

    "Begitu vaksin ditemukan, maka Singapura, Vietnam, maupun Indonesia diharapkan bisa mempersiapkan fasilitas manufaktur agar solidaritas ASEAN ini bisa terjaga dan kita bisa sama-sama menghentikan pandemi COVID-19 sekaligus untuk me-restart perekonomian," ujarnya.

    Dalam kesempatan ini, Airlangga juga kembali memaparkan tiga program dan kebijakan di bidang perekonomian untuk mengatasi dampak dari pandemi COVID-19.

    Kebijakan itu adalah program pemulihan ekonomi nasional, program exit strategy yaitu pembukaan ekonomi secara bertahap menuju normal baru, serta reset dan transformasi ekonomi untuk mendorong percepatan pemulihan ekonomi.

    "Dalam upaya penanganan COVID-19 ini, pilar pertama yang menjadi prioritas pemerintah adalah kesehatan, disusul dengan pilar sosial, ekonomi, dan keuangan," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.