Erick Thohir Sebut Angkasa Pura akan Digabung Jadi Satu

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir saat melihat uji coba alat ventilator milik Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Kamis, 16 April 2020. Erick Thohir berharap wabah COVID-19 ini menjadi titik balik bagi Indonesia untuk menghasilkan produk kesehatan dalam negeri khususnya ventilator guna menunjang fasilitas Rumah Sakit yang ada di Indonesia. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir saat melihat uji coba alat ventilator milik Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Kamis, 16 April 2020. Erick Thohir berharap wabah COVID-19 ini menjadi titik balik bagi Indonesia untuk menghasilkan produk kesehatan dalam negeri khususnya ventilator guna menunjang fasilitas Rumah Sakit yang ada di Indonesia. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir mengatakan dua perusahaan Angkasa Pura akan digabung menjadi satu. Menurutnya, hal itu bagian dari efisiensi BUMN.

    "Alhamdulillah kemarin kami sudah ada rapat dengan menteri terkait Menteri Perhubungan dan Menteri Keuangan, nanti yang namanya Angkasa Pura akan digabungkan menjadi satu, di sana akan digabungkan juga dengan logistik-logistik udara yang ada keterkaitan," kata Erick dalam rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa, 9 Juni 2020.

    Erick mengatakan efisiensi itu terjadi di negara-negara di Timur Tengah seperti Emirates atau Qatar yang sudah mensinergikan logistik udara dan layanan bandara.

    Dia menuturkan ada dana talangan untuk lima BUMN yakni untuk Garuda Rp 8,5 triliun, KAI Rp 3,5 triliun, Perumnas Rp 650 miliar, Krakatau Steel Rp 3 triliun, dan PTPN Rp 4 triliun.

    Khusus Garuda, kata dia, tidak hanya mendapatkan talangan, namun juga melakukan negosiasi total pada para lessor. Dia mengatakan kemarin mendapatkan dukungan juga dari KPK untuk khususnya beberapa deal-deal yg terindikasi fraud dan terbukti tidak dibayarkan.

    "Kami itu tidak mau bayar lah karena itu indikasi fraud. Hal-hal ini kita lakukan berkesinambungan," ujar dia.

    Kendati begitu, dia juga mengakui pi industri penerbangan ini 95 persen kondisinya drop karena dampak virus Corona atau Covid-19.

    "Itu realita kita, namun tentu apapun setelah pasca Covid, Garuda harus kembali lagi beroperasi juga memastikan bagaiman service pariwisata kita harus bangkit," ujar Erick.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.