Darurat Corona, Sandiaga: Batasi Orang Keluar dari Jabodetabek

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno tiba untuk menyaksikan sidang putusan MK terkait sengketa Pilpres 2019 di kediaman Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, Jakarta Selatan, Kamis, 27 Juni 2019. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno tiba untuk menyaksikan sidang putusan MK terkait sengketa Pilpres 2019 di kediaman Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, Jakarta Selatan, Kamis, 27 Juni 2019. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, JakartaBekas Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menilai banyaknya perantau, khususnya dari Wonogiri, yang mudik pada masa darurat Virus Corona alias Covid-19 adalah komplikasi tersendiri dalam penanggulangan penyakit itu. Sebab, menurut dia, perjalanan dari zona merah seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi itu bisa saja membawa virus hingga ke kampung.

    Untuk itu, Sandiaga Uno mengusulkan pemerintah tegas untuk membatasi lalu lintas dari dan ke dalam Jabodetabek. "Saya sepakat agar pemerintah untuk tiga pekan ke depan dan bisa diusulkan di Jabodetabek untuk dilakukan pembatasan orang masuk dan keluar," ujar dia dalam konferensi video, Kamis, 26 Maret 2020.

    Pembatasan itu, kata Sandiaga, juga bisa dilakukan di terminal, stasiun, dan bandara. Sehingga penyebaran penyakit dari orang yang mudik bisa dihindari. Pembatasan itu juga menjadi penting lantaran fasilitas kesehatan di daerah kampung tidak selengkap di ibukota, sehingga dikhawatirkan kurang memadai dalam menanggulangi penyakit tersebut.

    Khusus untuk kondisi ibu kota, Sandiaga menilai pemerintah harus lebih disiplin dalam melakukan pembatasan. Bahkan kalau perlu aparat diterjunkan untuk melakukan penertiban dan peringatan secara berkala agar masyarakat mematuhi peraturan. Kebijakan tersebut dapat diterapkan di wilayah-wilayah yang memang sudah termasuk zona merah virus Corona.

    Sebelumnya, ribuan perantau Wonogiri yang tinggal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi terpantau memilih mudik lebih cepat. Biasanya, penumpang bus asal Jabodetabek yang masuk Wonogiri sekitar 1.400- an orang, namun sejak 19 Maret 2020 jumlahnya melonjak menjadi di kisaran 2.000-an penumpang per hari.

    Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Tipe A Giri Adipura Wonogiri, Agus Hasto Purwanto, mengatakan biasanya kedatangan bus AKAP hanya 90-95 bus setiap hari. Namun sejak masa darurat corona, jumlahnya melonjak mencapai 118-131 bus yang rata-rata penuh penumpang. 

    Agus menjelaskan, kaum perantau Wonogiri yang mudik didominasi oleh warga yang bekerja sebagai wiraswasta dan pedagang. "Saat ini di Jakarta sudah banyak yang stay at home akibat virus Covid-19. Sebagai dampaknya, mereka tidak mendapatkan penghasilan dan akhirnya balik ke kampung halaman," katanya, Selasa, 24 Maret 2020.

    Penumpang yang datang dari Jakarta kebanyakan turun di Kecamatan Baturetno, Pracimantoro, Jatisrono, Purwantoro, dan lain sebagainya. Sedangkan yang turun di Terminal Giri Adipura hanya sekitar 3-5 orang. "Sebagai antisipasi penyebaran Covid-19, kami sudah melakukan penyemprotan desinfektan dan menyiapakan hand sanitizer di area terminal," kata Agus.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.