Besok, Laju IHSG Diprediksi Menghijau karena Sentimen The Fed

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan depan diperkirakan bergerak positif. Sejumlah sentimen positif dari Amerika Serikat akan membuat investor yakin kembali masuk ke pasar modal. 

    "Koreksi mungkin akan terjadi di akhir-akhir pekan setelah kenaikan awal pekan. Kami perkirakan support IHSG di level 4.850 sampai 4.639 dan resistance di level 4937 sampai 5040," tulis Hans Kwee, Direktur Anugerah Mega Investama dalam riset yang diterima Bisnis, Sabtu 14 Maret 2020. 

    Stimulus positif itu yakni rencana bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve menyuntikkan likuiditas ke dalam sistem perbankan Amerika. The Fed juga akan mulai membeli obligasi treasuri di semua tenor, yang dimulai dengan obligasi 30 tahun. Kebijakan ini memberikan sentimen positif pada pasar keuangan Amerika dan dunia.  

    Meski begitu larangan turis Eropa masuk ke wilayah Amerika Serikat oleh Presiden Donald Trump mengejutkan pelaku pasar. Langkah ini menurunkan risiko penyebaran virus corona namun dipandang menjadi ancaman bagi bisnis dan ekonomi global.

    Pada Kamis lalu 12 Maret 2020, The European Central Bank (ECB) memutuskan tidak memotong suku bunga berbeda dengan ekspektasi pasar. Hal ini sempat mengecewakan pelaku pasar yang berakibat penurunan bursa saham di kawasan tersebut. 

    Sementara itu, kejatuhan harga minyak hampir 25 persen akibat perang harga Rusia dan Arab Saudi sempat memicu panic selling di bursa saham global pada pekan lalu.

    Tetapi harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges telah mulai kembali naik. Stimulus ekonomi sejumlah negara menimbulkan harapan kenaikan permintaan minyak. 

    Dari dalam negeri, stimulus pemerintah dan sejumlah kebijakan otoritas keuangan pada penutupan perdagangan Jumat 13 Maret 2020, mendapat respon positif. Otoritas moneter memangkas GWM valas dari 8 persen menjadi 4 persen. Sementara stimulus fiskal jilid dua sebesar Rp22,9 trilun rupiah digelontorkan untuk membantu sektor manufaktur dan perdagangan. Stimulus jilid dua tersebut berupa relaksasi empat jenis pajak yaitu Pajak Penghasilan (PPh) 21, PPh 22 Impor, PPh badan dan restitusi pajak pertambahan nilai. 

    Berbagai stimulus mulai dari dukungan kenaikan pasar Amerika, Eropa dan domestik membuat pelaku pasar disarankan untuk berpikir rasional dengan melakukan pembelian ketika terjadi koreksi di pasar dan tidak panik beli sewaktu harga naik atau panik jual sewaktu harga turun. 

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.