Sri Mulyani: Profil Ekonomi dan Fiskal Saudi Arabia Menarik

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 19 Februari 2020. DPR menyetujui Menteri Keuangan mengenakan cukai terhadap produk plastik yang meliputi kantong plastik hingga minuman berpemanis dalam kemasan plastik atau kemasan kecil (sachet). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 19 Februari 2020. DPR menyetujui Menteri Keuangan mengenakan cukai terhadap produk plastik yang meliputi kantong plastik hingga minuman berpemanis dalam kemasan plastik atau kemasan kecil (sachet). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menghadiri pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 - bertempat di Riyadh - ibu kota negara Saudi Arabia. "Sebagai tuan rumah pertemuan ekonomi kelompok G20, Saudi Arabia memiliki profil ekonomi dan fiskal (keuangan negara) yang menarik kita pelajari," kata Sri Mulyani melalui Intagram Sabtu, 22 Februari 2020. 

    Dengan populasi 33.4 juta orang, saat ini negara Saudi menjalankan Vision 2030 - yaitu Program reformasi di bidang sosial ekonomi, termasuk peranan perempuan yang semakin ditingkatkan. Perekonomian Saudi Arabia didominasi oleh minyak, sehingga kinerja ekonomi sangat dipengaruhi oleh naik turunnya harga dan produksi minyak.

    Maka, kata dia, upaya untuk diversifikasi kegiatan ekonomi untuk tidak tergantung minyak dilakukan. Menurut data IMF, Pertumbuhan ekonomi Saudi Arabia 2019 adalah 1,9 persen, di mana sektor minyak tumbuh 0,7 persen dan non minyak 2,9 persen.

    Defisit APBN meningkat dari 5.9 persen PDB di 2018 menjadi 6.5 persen PDB di 2019. Utang pemerintah 24.7 persen dari PDB. Tingkat pengangguran untuk warga Saudi mencapai 12.5 persen, di mana pengangguran perempuan mencapai 32.7 persen.

    Reformasi ekonomi yang sedang dilakukan Saudi Arabia adalah:

    1. Menurunkan defisit APBN untuk menjadi seimbang pada tahun 2023.
    2. Menaikkan penerimaan pajak terutama (PPN).
    3. Meningkatkan harga BBM secara bertahap, setiap kuartal ada perubahan harga sesuai harga internasional.
    4. Mengendalikan belanja negara terutama gaji pegawai dan belanja modal yang tidak produktif.
    5. Meningkatkan transparansi fiskal (belanja dan pendapatan - termasuk data dari perusahaan minyak Aramco)
    6. Reformasi pasar tenaga kerja, dengan melakukan mandatori rekrutmen untuk pekerja Saudi (Saudization) dalam rangka menurunkan pengangguran. Selama ini Saudi sangat tergantung kepada pekerja ekspatriat (TKA), setiap warga negara asing dipungut biaya tinggal di Saudi.
    7. Penyediaan transport khusus untuk perempuan dan program penitipan anak (childcare) untuk mendukung partisipasi kerja perempuan Saudi.
    8. Bantuan untuk usaha kecil diberikan dengan pemberian pinjaman bank dan peningkatan akses pembiayaan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara