RI Terbuka soal Investasi, Luhut: Bahkan dari Bulan Kalau Ada

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kanan), dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan (kiri) saat meninjau prosesi pengangkatan gerbong kereta Light Rail Transit (LRT) pertama di Stasiun LRT Harjamukti, Cibubur, Jakarta, AhAd, 13 Oktober 2019.  sarana proyek LRT Jabodebek dibangun oleh PT INKA bersama PT KAI dan PT LEN. Sedangkan prasarana LRT dibangun oleh PT Adhi Karya. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kanan), dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan (kiri) saat meninjau prosesi pengangkatan gerbong kereta Light Rail Transit (LRT) pertama di Stasiun LRT Harjamukti, Cibubur, Jakarta, AhAd, 13 Oktober 2019. sarana proyek LRT Jabodebek dibangun oleh PT INKA bersama PT KAI dan PT LEN. Sedangkan prasarana LRT dibangun oleh PT Adhi Karya. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengaku belum mengetahui adanya inisiatif terbaru dari tiga negara, Amerika Serikat, Australia, dan Jepang, bernama Blue Dot Network. Kerja sama ketiga negara ini diduga hadir untuk merespon keberadaan Belt and Road Initiative atau Proyek Jalur Sutra yang telah diluncurkan oleh Cina.

    Meski demikian, Luhut memastikan Indonesia tetap membuka peluang untuk terlibat dalam inisiatif besutan Amerika tersebut sepanjang membawa investasi ke Indonesia. "Dengan mana aja mungkin, dari bulan kalau ada, mau bawa duit," kata dia saat ditemui di kantornya di Jakarta Pusat, Jumat, 8 November 2019.

    Sebelumnya pada Senin, 4 November 2019, ketiga negara sepakat meluncurkan Blue Dot Network, sebuah inisiatif multisektor yang mempromosikan pengembangan  infrastruktur global. Infrastruktur global ini diklaim memiliki kualitas tinggi dan memiliki standar yang dapat dipercaya.

    Lewat Blue Dot Network, nantinya akan ada evaluasi dan sertifikasi terhadap proyek infrastruktur yang sesuai standar di kawasan Indo-Pasifik. "Untuk menciptakan infrastruktur yang berkualitas, untuk menciptakan peluang, progres, dan stabilitas” kata Executive Vice President The U.S. Overseas Private Investment Corporation (OPIC) David Bohigian.

    Media asing menulis inisiatif ini sebagai upaya Amerika menandingi Proyek Jalur Sutra milik Cina. Akan tetapi, Under Secretary for Economic Growth, Energy, and Environment, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Keith Krach membantahnya. "Saya pikir ini bukan respon atas Belt and Road Cina tapi ini kebutuhan dari negara-negara yang terlibat," kata dia.

    Luhut juga menilai keberadaan dari inisiatif ini tidak masalah ketika mendatangkan modal ke Indonesia. Ia menyadari, investasi dari Amerika selama ini masih kalah dibandingkan dengan negara lain seperti Cina, Jepang, dan Singapura. Akan tetapi, Luhut membantah jika situasi tersebut terjadi karena Indonesia terlalu dekat dengan Cina, yang kini terlibat perang dagang dengan Amerika.

    "Ndak betul itu, dia (Amerika) ga pernah nawarin, kita tak tanya ga ada yang datang, yang datang dari malah dari Uni Emirat Arab, Cina, Singapura, dan Jepang, ya kita lari ke situ," ujarnya.

    Luhut juga menilai seretnya investasi dari Amerika bukanlah karena Indonesia terlibat proyek Belt and Road Inisiative. Sebab, Luhut menegaskan, Indonesia saat ini sama sekali belum menandatangani kesepakatan apapun dengan proyek milik Cina tersebut. "Belum ada yang jalan, yang jalan private sector semua," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.