Terawan Dorong Puskesmas Kembali ke Fitrah: Mencegah Penyakit

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkes dr Terawan Agus Putranto, saat mengikuti sidang kabinet pertama Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 24 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    Menkes dr Terawan Agus Putranto, saat mengikuti sidang kabinet pertama Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 24 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto akan mendorong puskesmas kembali berfungsi sesuai fitrahnya, yakni sebagai fasilitas kesehatan dengan konsentrasi pelayanan pada upaya promotif dan preventif. Konsentrasi pelayanan puskesmas akan dikembalikan di antara lain mencakup edukasi kesehatan serta pencegahan dan deteksi dini penyakit.

    "Ke depan akan mengubah konsentrasi pelayanan di puskesmas bukan hanya kuratif-rehabilitatif, tapi kembali ke fitrahnya menjadi promotif dan preventif," kata Terawan di Jakarta, Senin, 28 Oktober 2019.

    Bila fungsi puskesmas fokus pada pelayanan kuratif dan rehabilitatif atau pengobatan, kata Terawan maka orientasinya adalah pembayaran layanan kesehatan. Sedangkan kalau konsentrasinya lebih pada upaya promotif dan preventif, ia melanjutkan, maka orientasi puskesmas akan lebih pada keberhasilan program kerja.

    Pemerintah, menurut Terawan, ingin puskesmas fokus pada upaya mencegah orang menjadi sakit, bukan hanya melayani orang yang sakit. Karena orientasi pengobatan ini pula yang pada akhirnya akan menambah beban defisit BPJS Kesehatan.

    Saat ini Kementerian Kesehatan sedang melakukan akreditasi fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Dalam akreditasi tersebut akan ditambahkan indikator mengenai upaya promotif dan preventif puskesmas. "Acuan akreditasi puskesmas bahwa dia terakreditasi kalau mampu atasi promotif-preventif, otomatis stunting dicegah," kata Terawan.

    Hal senada sebelumnya disampaikan Menteri Kesehatan Kabinet Kerja Nila Djuwita Farid Moeloek. Ia menyatakan salah satu cara yang bisa mengurangi defisit BPJS Kesehatan adalah perilaku serta lingkungan yang sehat.

    "BPJS Kesehatan itu mengalami defisit karena banyak orang tidak sehat. Coba perilakunya dan lingkungannya sehat, maka tidak akan sakit," ujar Nila usai penyerahan penghargaan kepada kepala daerah yang berhasil menjalankan program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) di Jakarta, Rabu, 2 Oktober 2019.

    Ia mencontohkan, lingkungan yang kotor akan menyebabkan banyak yang sakit. Untuk itu, menurut Nila, menjaga kualitas lingkungan agar kualitas kesehatan semakin membaik menjadi sangat penting. 

    "Kalau kita tidak sehat, maka penyakit akan terjadi terus. Oleh karena itu, penting mengubah perilaku kita," ujar dia. Ia juga mendorong agar masyarakat mengerti pentingnya perilaku hidup sehat, bukan sekadar naiknya iuran BPJS Kesehatan.

    ANTARA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.