Indef: Kabinet Jokowi Tak Ideal Sebab Pos Strategis Diisi Parpol

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Politkus Partai Golkar, Agus Gumiwang Kartasasmita, tiba di Kompleks Istana Kepresidenan jelang pengumuman resmi menteri Kabinet Jokowi Jilid II, Jakarta, 23 Oktober 2019. TEMPO/Ahmad Faiz

    Politkus Partai Golkar, Agus Gumiwang Kartasasmita, tiba di Kompleks Istana Kepresidenan jelang pengumuman resmi menteri Kabinet Jokowi Jilid II, Jakarta, 23 Oktober 2019. TEMPO/Ahmad Faiz

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti bidangan perdagangan dan industri dari Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Andry Satrio Nugroho, mengatakan komposisi Kabinet Indonesia Maju bentukan Presiden Joko Widodo atau Jokowi belum ideal. Sebab, beberapa pos strategis yang mengurusi bidang perekonomian tidak diisi oleh tokoh yang mumpuni.  

    "Kita masih melihat posisi strategis penopang industri, seperti Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, diisi orang partai. Idealnya posisi ini berasal dari profesional,” ujar Andry dalam diskusi online Indef bertajuk 'Kabinet Menteri Ekonomi Jilid II: Tantangan dan Harapan’ yang digelar pada Sabtu, 26 Oktober 2019.  

    Kondisi yang sama terjadi saat pemilihan wakil menteri. Jokowi dinilai masih mengutamakan kepentingan partai politik saat menunjuk pembantu menteri. Ia semula berharap, bila kursi menteri diisi kalangan partai, pos untuk wakil menteri diserahkan kepada pejabat karier atau kalangan profesional. 

    Andry menyayangkan pembentukan kabinet di bidang ekonomi yang tidak ideal. Padahal, menurut dia, dalam lima tahun ke depan, Indonesia bakal menghadapi tantangan global yang makin berat. 

    “Pada periode kedua, Presiden Jokowi dihadapkan dengan tantangan ekonomi yang tidak mudah. Perang dagang Cina dan Amerika Serikat masih belum selesai,” ucapnya.

    Dalam situasi konflik dagang yang belum menyurut, Andry mengatakan Indonesia rentan menjadi korban. Ia menyatakan, saat pertumbuhan ekspor Cina turun, kondisi perdagangan Indonesia berpotensi bakal lesu. Alasannya, mitra dagang terbesar Indonesia adalah Cina dengan total perdagangan mencapai US$ 45,9 miliar sepanjang Januari hingga Agustus tahun ini. 

    Cina juga menjadi negara tujuan ekspor terbesar asal Indonesia dengan angka ekspor mencapai US$ 17,2 miliar. Komoditas yang diekspor pun memiliki kontribusi terbesar, seperti crude palm oil atau CPO, batu bara, besi dan baja, bijih tembaga, dan produk kayu. 

    Saat kondisi ekonomi Cina surut, laju ekspor sejumlah komoditas unggulan itu akan mengalami penurunan. "Jika terjadi penurunan permintaan dari pembeli terbesar seperti Cina, dipastikan perekonomian Indonesia akan melemah,” ucapnya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.