Gunakan Bungkil Sawit, Menteri Susi Sukses Genjot Ikan Budidaya

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti hari ini, Selasa, 30 April 2019, melakukan peninjauan 22 kapal asing di Pontianak yang akan ditenggelamkan pada Sabtu, 4 Mei 2019. (sumber: Twitter @kkpgoid)

    Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti hari ini, Selasa, 30 April 2019, melakukan peninjauan 22 kapal asing di Pontianak yang akan ditenggelamkan pada Sabtu, 4 Mei 2019. (sumber: Twitter @kkpgoid)

    TEMPO.CO, Palembang-Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah komando Menteri Susi Pudjiastuti sukses memanfaatan bungkil kelapa sawit sebagai salah satu bahan baku pakan ikan. Selain berhasil menekan angka impor pakan, pemanfaatan bungkil sawit ini juga bisa meningkatkan produksi di tingkat petani kecil.

    Bungkil kelapa sawit (palm karnel meal/PKM) merupakan produk sampingan dari pembuatan minyak kelapa sawit. Ketersediaan PKM hingga saat ini masih sangat melimpah di Indonesia. Hingga saat ini, Indonesia masih tercatat sebagai negara terbesar kedua di dunia setelah Malaysia untuk produksi PKM. 

    "Bungkil sawit ini mudah didapat dan teruji memiliki kandungan nutrisi yang tinggi,” kata Mimid Abdul Hamid, Direktur Pakan dan Obat Ikan pada Dirjen Perikanan Budidaya KKP, di Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu, 16 Oktober 2019.  

    Sejak itu, kata Mimid, selama kurun waktu 2015-2018 volume dan nilai produksi perikanan budidaya mengalami peningkatan rata-rata 19,2 persen per tahun. Komoditas yang mengalami peningkatan cukup signifikan meliputi udang (35,22 persen), Gurame (35,09 persen), dan lele 23,94 persen.

    Menurut Mimid, peningkatan tersebut selain karena  menggunakan pakan mandiri, juga adanya peranan bioflock, mina padi, bantuan benih dan induk ikan serta excavator. Komponen biaya pakan mencapai 60 – 70 persen dari total biaya produksi.  Karenanya, pengembangan pakan ikan mandiri menjadi salah satu solusi dari pemerintah.

    Mimid menyebut beberapa provinsi sebagai bukti keberhasilan program pakan mandiri, antara lain di Lampung Selatan. Di sana, Perhimpunan Program Pakan Mandiri Sentosa di Desa Marga Agung Kecamatan Jati Agung berhasil memproduksi 15 – 18 ton pakan ikan per bulan, dengan harga jual Rp. 6 ribu – Rp. 7 ribu per kg.

    Pakan mandiri tersebut terbukti menurunkan FCR dari 1,5 menjadi 1  pada budidaya ikan lele. Sedangkan di Probolinggo, mampu memproduksi pakan ikan air tawar sebanyak 5 – 6 ton per bulan. Penggunaan pakan mandiri mampu menambah margin pembudidaya sebesar 50 persen. "Dulu keuntungan per kilo hanya Rp 4 ribu sekarang jadi Rp 6 ribu, imbuh Mimid.

    Sementara itu Kepala perwakilan FAO di Indonesia, Stephen Rudgard menjelaskan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Food and Agriculture Organization (FAO) mengembangkan pakan mandiri berbasis bahan baku lokal di Indonesia melalui project “Supporting Local Feed Self-Sufficiency for Inland Aquaculture Development in Indonesia”.

    Kerja sama yang dibina dengan Menteri Susi tersebut merupakan kegiatan Technical Cooperation Project (TCP) sejak tahun 2018 hingga 2019. Dengan kerja sama itu dia berharap adanya peningkatkan produksi pakan ikan khususnya ikan air tawar yang berkualitas tinggi dan biaya hemat oleh produsen pakan skala kecil di Indonesia. “Kita harus memproduksin lebih banyak ikan dengan harga yang mudah dijangkau masyarakat,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.