Kabut Asap Belum Reda, Sumsel Akan Tabur Empat Ton Garam

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah siswa SMP pulang lebih awal usai diumumkannya libur terkait kondisi kabut asap yang pekat di Palembang, Sumatera Selatan, Senin 14 Oktober 2019. Kondisi kabut asap yang sangat pekat membuat Dinas Pendidikan setempat mengeluarkan pemberitahuan bagi sekolah untuk meliburkan sekolah. ANTARA FOTO/Feny Selly

    Sejumlah siswa SMP pulang lebih awal usai diumumkannya libur terkait kondisi kabut asap yang pekat di Palembang, Sumatera Selatan, Senin 14 Oktober 2019. Kondisi kabut asap yang sangat pekat membuat Dinas Pendidikan setempat mengeluarkan pemberitahuan bagi sekolah untuk meliburkan sekolah. ANTARA FOTO/Feny Selly

    TEMPO.CO, Palembang - Sejauh ini kebakaran hutan, lahan dan kebun di Sumatera Selatan sudah menghabiskan 145 ribu hektar dan kabut asap pun tak kunjung reda. Menyikapi hal itu, Gubernur Herman Deru berjanji akan bergotong royong memadamkan api di daerah Ogan Komering Ilir (OKI) yang sebagian besar merupakan kawasan gambut.

    “Besok kita akan kedatangan pesawat lebih besar yakni jenis Hercules guna melakukan penebaran garam sebanyak 4 ton  lebih,” katanya, Selasa, 15 Oktober 2019.

    Upaya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) tersebut merupakan salah satu cara yang diterapkan untuk memancing turunnya hujan utamanya di daerah rawan Karhutla. Modifikasi cuaca hampir setiap hari dilakukan dengan menggunakan pesawat Cassa dengan penebaran 800 Kg garam.

    Selain menebar garam untuk menyemai bibit hujan buatan, pemadaman dari udara juga dilakukan dengan Water Bombing . Untuk operasi pemadaman udara ini telah disiapkan 9 unit helikopter,  ditambah dengan 2 unit  heli melakukan patroli patauan jalur udara.

    Dari pantauan  jalur udara dan satelit yang berlangsung kemarin, setidaknya terdapat 18 titik api (fire spot)  yang tergolong besar dengan keakuratan 80 persen. Namun bila dilihat dari jalur darat  terpantau 22 titik api  yang kecil sehingga tidak terpantau dari udara atau satelit. Menurut Herman, titik api sebagian besar berada di lahan gambut dan  sebagian lagi  lahan kosong yang tersebar di 16 desa di Kabupaten OKI, Musi Banyuasin yakni diwilayah  Kecamatan Bayu Lincir.

    Lahan-lahan tersebut beberapa di antaranya merupakan lahan produktif seperti perkebunan sawit, kebun karet hingga lahan gambut. Sebagai akibat dari peristiwa itu, udara di sejumlah kota masuk kategori tidak sehat serta jarak pandang dapat membahayakan dunia penerbangan dan transportasi laut dan darat.

    Badan Penanggulang Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat, hingga kemarin kebakaran tahun ini telah menghabiskan 144.291 hektare yang terdiri atas lahan mineral maupun gambut. Kabupaten OKI tercatat sebagai daerah paling parah mengalami kebakaran dengan 61.652 hektare (42 persen), Musi Banyuasin (Muba) 32.824 hektare (22,7 persen), Banyuasin 24.845 hektare (17,2 persen), Ogan Ilir 7.665 hektare (5,3 persen), Musi Rawas Utara atau Muratara 6.276 hektare (4,3 persen), Muara enim 5.179  hektare (3,6 persen). Sedangkan sisanya terjadi di beberapa kabupaten lainnya. 

    Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Kabupaten OKI  tersebar di 16 desa dengan jumlah 22 titik. Yakni meliputi daerah Pampangan, Cengal, Sungai Menang, Pedamaran, Tanjung Lubuk, Pampangan, Kayu Agung, Tulung Selapan dan Pangkalan Lapam. Karhutla di kawasan tersebut, kata Herman Deru, memberikan kontribusi besar terjadinya kabut asap yang  menyelimuti Kota  Palembang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.