BTN dan BNI Bidik KPR Rumah Baru di Bawah Rp 500 Juta

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pameran layanan publik internasional di Jakarta, Selasa (23/6). Kalangan pengembang berharap tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) pada semester II/2009 turun ke kisaran 11-12% agar sektor properti kembali bangkit. Tempo/Panca Syurkani

    Pameran layanan publik internasional di Jakarta, Selasa (23/6). Kalangan pengembang berharap tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) pada semester II/2009 turun ke kisaran 11-12% agar sektor properti kembali bangkit. Tempo/Panca Syurkani

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. masih menjadikan rumah baru sebagai sumber permintaan kredit pemilikan rumah (KPR). Pasalnya rata-rata pembeli rumah pertama mencari hunian tangan pertama.

    Direktur Konsumer BTN Budi Satria menjelaskan bahwa lebih kurang 75 persen pengajuan KPR di perseroan digunakan untuk membeli rumah baru. Namun bank merasakan permintaan tahun ini tidak sebagus tahun lalu. Hal itu berlaku juga untuk rumah nonsubsidi dengan harga di bawah Rp 500 juta.

    “Pembeli rumah pertama ini relatif stabil, terutama mereka yang masuk dalam segmen pasar rumah untuk MBR [masyarakat berpenghasilan rendah],” katanya kepada Bisnis, Kamis, 3 Oktober 2019.

    Adapun Direktur Bisnis Konsumer BNI Angoro Eko Cahyo menilai baik rumah baru maupun rumah bekas memiliki kecenderungan yang serupa tahun ini. Secara umum industrinya tengah melambat, tetapi segmen tertentu masih tumbuh dengan cukup baik.

    Saat ini daya beli masyarakat berkisar pada harga rumah berkisar kurang dari Rp 500 juta, baik untuk pasar primer maupun sekunder. “Di kelompok inilah pergerakan pasar KPR terus bertumbuh seiring semakin banyaknya keluarga muda butuh KPR baik perdana maupun KPR second,” katanya.

    BNI mencatat sebanyak 85 persen debitur saat ini mengambil KPR untuk membeli rumah baru. Hingga akhir tahun ini bank memperkirakan komposisi tidak akan berubah banyak.

    Anggoro melanjutkan bahwa per Agustus 2019 BNI mencatat pertumbuhan lebih dari 9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Hal ini terjadi hampir sama baik antara pasar primer maupun sekunder.

    “Rata-rata penyaluran Rp 800 miliar per bulan. Ini kapasitas terbaik yang bisa kami lakukan di tengah situasi yang volatile saat ini,” kata Anggoro.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.