Potensi Megathrust, Begini Bandara Yogyakarta Minimalkan Risiko

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang keluar dari area bandara seusai mendarat dengan pesawat komersial Citilink saat penerbangan perdana di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo, DI Yogyakarta, Senin 6 Mei 2019. Saat ini Bandara YIA mulai beroperasi untuk penerbangan komersial. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    Penumpang keluar dari area bandara seusai mendarat dengan pesawat komersial Citilink saat penerbangan perdana di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo, DI Yogyakarta, Senin 6 Mei 2019. Saat ini Bandara YIA mulai beroperasi untuk penerbangan komersial. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pelaksana tugas sementara General Manager (GM) Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Agus Pandu Purnama, menuturkan jika isu ancaman gempa besar atau megathrust pesisir selatan Jawa terus diembuskan meski bandara baru di Kabupaten Kulon Progo itu telah beroperasi.

    Pandu mengatakan memakluminya namun meminta publik juga memahami bila isu megathrust disertai tsunami setinggi 20 meter merupakan potensi, bukan prediksi. Itu karena letak Indonesia yang disebutnya berada di ring of fire.

    "Persoalannya, sejauh apa mitigasi bencana bisa dilakukan, sehingga meminimalisir potensi risiko itu," kata Pandu di sela pertemuan dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Yogyakarta, Selasa 13 Agustus 2019.

    Pandu menuturkan isu ancaman bencana besar itu sudah muncul bahkan sejak proyek bandara baru di Kulon Progo belum dibangun. Oleh sebab itu, ketika saat ini bandara YIA telah beroperasi, isu-isu itu telah lewat dan menjadi masukan pihaknya untuk terus meningkatkan mitigasi bencana.

    Misalnya saja yang masih dikerjakan saat ini oleh Angkasa Pura di Bandara YIA dengan membuat green belt atau sabuk pelindung berupa penanaman cemara udang sepanjang lima kilometer di pantai selatan Kulon Progo. "Bandara YIA pun telah dibangun dengan konstruksi tahan gempa hingga 8,8 skala Richter," ujar Pandu.

    Angkasa Pura, ujar Pandu, juga menyiapkan mitigasi Terminal Bandara YIA saat terjadi gempa yang berpotensi tsunami. Sehingga penduduk sekitar bisa menyelamatkan diri ke bandara yang ketinggiannya lebih tinggi dari kampung sekitarnya.

    "Awalnya pembangunan Bandara YIA mau dibangun lebih empat meter dari permukaan laut, tapi lalu dinaikkan menjadi tujuh meter," ujarnya.

    Pandu menuturkan bandara YIA juga dibangun dengan akses yang mendukung mitigasi. Bandara YIA disebut memiliki main gate di sisi timur dan sisi barat. Keduanya otomatis terbuka saat terjadi resiko bencana sehingga warga siapapun bisa berlari menuju bandara untuk menyelamatkan diri.

    Tak hanya itu. Pandu menuturkan Bandara Yogyakarta dilengkapi dengan pusat penanganan krisis atau crisis center dan tempat aman berkapasitas hingga 10 ribu orang yang bisa dimanfatkan warga atau orang yang berada di sekitar bandara.

    Anggota DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas (GKR) Hemas mendesak tiga sarana pendukung Bandara YIA bisa segera diwujudkan. Pertama, rumah sakit berstandar internasional dengan peralatan memadai untuk menunjang bandara internasional yang jaraknya tak terlalu jauh.

    Kedua, hotel untuk para kru maskapai yang bermalam atau saat pesawat grounded, dan ketiga aksesibilitas menuju bandara berupa jalan yang memadai. "Ada tiga infrastruktur yang harus ada sebagai prasyarat keberadaan bandara Yogyakarta berskala internasional " ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.