Rupiah Melemah 8 Hari, BI: Karena Musim Bagi Dividen

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai bank menghitung uang dolar Amerika Serikat pecahan 100 dolar dan uang rupiah pecahan Rp 100 ribu di kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 20 Agustus 2018. Nilai tukar rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, 20 Agustus 2018, bergerak melemah 20 poin ke level Rp 14.592 dibanding sebelumnya Rp 14.572 per dolar Amerika. TEMPO/Tony Hartawan

    Pegawai bank menghitung uang dolar Amerika Serikat pecahan 100 dolar dan uang rupiah pecahan Rp 100 ribu di kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 20 Agustus 2018. Nilai tukar rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, 20 Agustus 2018, bergerak melemah 20 poin ke level Rp 14.592 dibanding sebelumnya Rp 14.572 per dolar Amerika. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko menjelaskan ihwal nilai tukar Rupiah uang melemah sekitar 8 hari ini. Menurut dia, salah satu faktor yang membuat Rupiah melemah adalah banyaknya perusahaan multinasional yang membagikan dividen, bunga, dan pembayaran pokok lainnya pada April-Juni ini.

    Baca: Jika Pemilu Damai, Luhut: Rupiah Menguat dan Miliaran Dolar Masuk

    Menurut Onny, sebetulnya langkah BI mempertahankan menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 Day Repo Rate, adalah cara agar menjaga stabilitas eksternal supaya ada uang masuk. "Untuk jaga suplai dolarnya kan ada DNDF diperlonggar, sehingga suplai dolarnya ada. Diharapkan nilai yang saat ini memang lemah bisa balik lagi terkendali, jadi emang itu ada musiman, sama kaya inflasi," kata Onny di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, 2 Mei 2019.

    Onny juga mengatakan bahwa sentimen risk off masih mewarnai pasar keuangan global seiring dengan rilis data ekonomi negara maju. Hal itulah yang memperkuat kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dan turunnya inflasi, serta berlanjutnya pelemahan nilai tukar Argentina Peso dan Turkish Lira.

    "Sentimen risk off memicu pelemahan indeks saham global diikuti penguatan tajam nilai tukar USD (DXY) naik ke level tertinggi sejak Mei 2017," kata Onny.

    Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS di angka Rp 14.245 pada Kamis, 2 Mei 2019. Angka tersebut menunjukkan pelemahan 228 poin dari nilai pada 18 April yang masih sebesar Rp 14.016.

    BACA: Jokowi Effect Pudar, Rupiah Melemah Jadi 14.078

    Sejak 18 April itu, nilai tukar Rupiah terus melemah. Pada 22 April, tercatat nilai tukar Rupiah berada di Rp 14.065 dan sehari kemudian menjadi Rp 14.080 per dolar AS. Pelemahan Rupiah berlanjut pada 24 April, menjadi Rp 14.112 per dolar AS. Pada 25 April sebesar Rp 14.154. Sedangkan pada 26 dan 28 April nilai tukar rupiah berada di Rp 14.188. Pada 30 April, nilai tukar Rupiah berada di kisaran Rp 14.215.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.