Nasib Bisnis Perkantoran Setelah Coworking Space Menjadi Tren

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja membersihkan Ruang Kerja Bersama, Ruang & Tempo di Gedung Tempo Lantai 8, Palmerah, Jakarta, 16 Mei 2018. Tempo, Kibar, dan Kumpul Luncurkan Ruang Kerja Bersama atau co-Working Space guna membuka peluang kolaborasi anak muda Indonesia dengan para praktisi media, komunikasi, dan berbagai komunitas kreatif dalam ekosistem digital. Ruang & Tempo juga menyediakan tempat bagi seluruh anggotanya untuk bekerja secara kolaboratif dengan berbagai fasilitas seperti area event, ruang meeting, serta akses internet 24 jam. TEMPO/Fardi Bestari

    Pekerja membersihkan Ruang Kerja Bersama, Ruang & Tempo di Gedung Tempo Lantai 8, Palmerah, Jakarta, 16 Mei 2018. Tempo, Kibar, dan Kumpul Luncurkan Ruang Kerja Bersama atau co-Working Space guna membuka peluang kolaborasi anak muda Indonesia dengan para praktisi media, komunikasi, dan berbagai komunitas kreatif dalam ekosistem digital. Ruang & Tempo juga menyediakan tempat bagi seluruh anggotanya untuk bekerja secara kolaboratif dengan berbagai fasilitas seperti area event, ruang meeting, serta akses internet 24 jam. TEMPO/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, Jakarta - Tingkat penyerapan gedung perkantoran mengalami penurunan sejak 2011 hingga 2016. Meskipun ingkat penyerapannya mulai merangkak naik, Head of Research & Consultany Savills Indonesia Anton Sitorus menilai tingkat kekosongan perkantoran terbilang masih tinggi, yaitu sebesar 24 persen pada tahun lalu, naik dari 21,5 persen pada 2017. Anton menuturkan tingkat supply gedung perkantoran masih tinggi.
     
     
    "Meski begitu tren penyerapannya sudah mulai meningkat atau rebound karena ditopang oleh permintaan untuk co-working space," kata Anton, Rabu 27 Februari 2019.
     
    Penyerapan gedung perkantoran di area distrik bisnis pada 2016 dan 2017 tak sampai 100 ribu meter persegi. Tahun lalu, penyerapannya mampu melebih 100 ribu meter persegi. Adapun pasokan gedung perkantoran masih tinggi. Namun, angka tersebut justru turun pada 2018. Menurut Anton, tingkat kekosongan gedung perkantoran yang paling tinggi terjadi pada grade A, yaitu hampir 33 persen. 
     
    Kekosongan juga terjadi pada gedung kelas premium yang mencapai 23 persen. Sementara tingkat kekosongan gedung perkantoran grade B dan C masih di bawah 20 persen. Hal tersebut, kata Anton, membuat harga sewa masih tertahan atau dalam tekanan. "Khususnya untuk kelas premium, penurunan harganya lumayan signifikan, hampir 25 persen year on year. Sementara, untuk grade ABC mulai mereda penurunannya," tutur Anton.
     
    Secara fundamental, kata Anton, penyerapan gedung perkantoran memang naik. Menurut Anton, hal tersebut ditopang permintaan perkantoran dari operator co-working space, seperti Gowork, Wework, Cohive, dan lainnya. Operator tersebut, kata Anton, mulai menyasar perusahaan start up hingga e-commerce. Bahkan, konsep co-working space ini mulai diminati oleh perusahaan konvensional. 
     
    "Perusahaan tersebut mulai nikmati co-working space karena mereka tidak perlu pusing perjanjian sewa dan lainnya karena sudah jadi tanggungan coworking space operator," tutur Anton. 
     
    Hal serupa juga dipaparkan Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) bahwa tingkat okupansi dari gedung-gedung perkantoran ini hanya mencapai 78 persen saja disebabkan karena tingginya penambahan jumlah gedung untuk wilayah bisnis distrik. Adapun permintaan coworking space dan perusahaan berbasis teknologi sepanjang tahun lalu mencapai sebesar 33 persen dari total serapan ruang perkantoran di wilayah Jakarta.
     
    Adapun luasnya mencapai 189 ribu meter persegi. Head of Research JLL James Taylor beberapa waktu lalu menyebutkan sepanjang 2018 terjadi peningkatan luas tempat yang dimanfaatkan sebagai coworking space sebesar 60 persen menjadi 120 ribu meter persegi. "Jumlah operatornya pun meningkat, baik lokal maupun internasional menjadi 41 operator atau naik sebesar 8 persen," ujar James. 
     
    Sekretaris Jenderal Asosiasi Coworking Space Indonesia Felencia Hutabarat menuturkan jumlah co-working space meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir. Ia mencatat jumlah ruang kerja bersama ini semula hanya 45 unit pada 2016. Angka tersebut tumbuh jadi 150 unit pada 2017. Tahun lalu, asosiasi mencatat jumlah coworking space sudah lebih dari 270 unit. "Mayoritas penggunanya adalah pekerja industri kreatif dan digital yang bisa bekerja hanya dengan komputernya," tutur Ellen.
     
    Dia mengatakan, layaknya kantor konvensional, para profesional di ruang kerja bersama juga dapat memanfaatkan sejumlah fasilitas penunjang kerja. Umumnya, layanan co-working space juga dikembangkan di sebuah gedung perkantoran yang besar. Bedanya, fasilitas tersebut bisa dinikmati bersama dengan komunitas kerja yang di dalamnya.
     
    Ellen menuturkan banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh masyarakat menggunakan co-working space. Pertama, pekerja tidak perlu lagi memikirkan fasilitas perkantoran karena sudah tersedia, seperti pantry atau pun akses internet. Lalu, ruang kerja bersama ini memungkinkan pekerja untuk tidak perlu lagi memikirkan perawatan aset karena sudah satu paket dari yang ditawarkan oleh operator.
     
    Menurut Ellen, peminat co-working space akan terus tumbuh apalagi banyak profesi baru yang hanya membutuhkan komputer sebagai alat kerja. Saat ini saja, kata Ellen, kantor-kantor konvensional mulai mengalihfungsikan menjadi co-working space. "Dengan kemudahan yang ditawarkan sangat memungkinkan bisnis ini akan tumbuh," ucap Ellen.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.