BI: Potensi Arus Modal Asing Masuk ke Pasar SBN Masih Besar

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi uang

    ilustrasi uang

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah mengatakan potensi masuknya arus modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih cukup besar. Meskipun imbal hasil (yield) SBN 10 tahun sudah turun ke 7,8 persen, bila dibandingkan dengan yield obligasi pemerintah AS (treasury bond) yang mencapai 3,0 persen, investor masih memperoleh selisih imbal hasil spread 480 basis poin (bps).

    Baca juga: Arus Modal Asing ke Pasar SBN Rp 35 Triliun Kuatkan Rupiah

    "Demikian pula secara real, dengan inflasi November 2018 sebesar 3,23 persen maka nilai real dari yield yang ditawarkan oleh SBN 10 tahun mencapai 4,57 persen, tertinggi setelah Brasil," kata Nanang, dalam pesan yang diterima Tempo, Senin malam, 3 Desember 2018.
     
    Menurut Nanang, tingkat inflasi yang rendah dan stabil juga akan membuat nilai tukar rupiah secara efektif tetap terjaga daya saingnya terhadap sekelompok mata uang mitra dagang atau dikenal Real Effective Exchange Rate (REER).

    "Oleh karena itu, pasar juga merespons positif data inflasi November 2018," ujar dia.

    Penguatan nilai tukar rupiah disebut bank sentral sebagai imbas dari masifnya arus modal global ke pasar sekunder Surat Berharga Negara atau SBN. BI mencatat arus modal global ke pasar sekunder SBN selama November 2018 mencapai Rp 35 triliun. Artinya, naik dari Rp 15,1 triliun di bulan Oktober 2018.

    Nanang mengatakan derasnya arus masuk modal investasi asing tersebut terjadi di tengah merebaknya optimisme atas kesepakatan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Cina Xi Jinping untuk melakukan "trade truce" dengan menunda pengenaan tambahan tarif oleh kedua negara untuk 90 hari ke depan.

    "Dan mengintensifkan pembicaraan lanjutan untuk menghasilkan rumusan perjanjian dagang antara ke dua negara," kata Nanang.

    Baca berita modal asing lainnya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.