Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Bos IMF: Momentum Ekonomi Global Sedang di Bawah Tekanan

image-gnews
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde. TEMPO/Dhemas Reviyanto
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde. TEMPO/Dhemas Reviyanto
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Christine Lagarde, menyebutkan bahwa dunia harus memanfaatkan peluang di mana ekspansi ekonomi tengah melaju untuk menjaga momentum. "Waktu yang tepat untuk memperbaiki atap adalah saat matahari sedang bersinar," seperti dikutip dalam kata sambutannya di Laporan Tahunan IMF 2018 Tinjauan Umum: Membangun Masa Depan Bersama menjelang perhelatan IMF - World Bank, Ahad, 7 Oktober 2018.

Baca: IMF Bantu Korban Gempa Lombok Rp 1,1 Miliar

Pernyataan Christine Lagarde itu sebetulnya telah sering diucapkan sepanjang tahun ini. Dan kali ini hal tersebut kembali disampaikan bahwa dunia harus memanfaatkan peluang di mana ekspansi ekonomi tengah melaju untuk menjaga momentum.

“Peluang saat ini masih terbuka. Untuk menjaga momentum, negara-negara perlu mengurangi risiko keuangan dan fiskal dengan memperkuat ketahanan sektor keuangan dan membangun kembali ruang kebijakan,” tulis Christine Lagarde.

Pekan lalu, IMF telah memberikan sinyal bakal memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini dan tahun depan. Tiga bulan setelah memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia dapat mencapai level 3,9 persen pada 2018 dan 2019, Lagarde memberikan sinyal di Washington bahwa dia tidak lagi begitu optimistis.

IMF dijadwalkan merilis World Economic Outlook versi terbaru pada 9 Oktober 2018 saat pembukaan IMF Annual Meeting di Bali, Indonesia. “Enam bulan lalu, saya menunjukkan ada awan hitam risiko di atas cakrawala. Hari ini, beberapa dari risiko itu mulai menjadi nyata,” kata Lagarde, berdasarkan persiapan kata sambutannya, seperti dikutip Bloomberg,.

Adapun Christine Lagarde menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi global selama beberapa tahun terakhir memang telah memberikan banyak harapan, di antaranya memberikan prospek peningkatan lapangan kerja dan standar kehidupan yang lebih baik di sebagian besar negara-negara anggota IMF.

Namun demikian, kini beberapa risiko mulai mengancam, seperti eskalasi tensi dagang, gundukan utang pemerintah dan swasta, gejolak pasar keuangan, dan kondisi geopolitik. Untuk itu, ChristineLagarde mengimbau agar negara-negara harus terus mendorong jalannya sistem perdagangan multilateral yang terbuka dan berbasis aturan, mengupayakan teknologi baru yang dapat memberikan manfaat bagi semua, pertumbuhan inklusif dan stabilitas keuangan. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Untuk jangka panjang, Lagarde menyebutkan bahwa momentum ekonomi global saat ini telah berada di bawah tekanan akibat terkikisnya kepercayaan terhadap lembaga-lembaga. “Padahal kepercayaan sungguh merupakan urat nadi dari perekonomian mana pun,” tulis Lagarde.

Adapun penyebab dari turunnya tingkat kepercayaan itu berasal dari dampak krisis keuangan global yang masih membayangi, persepsi bahwa manfaat dari pertumbuhan ekonomi dan globalisasi tidak tersebar merata, kecemasan tentang pekerja di masa depan, peluang ekonomi, dan lemahnya tata kelola yang justru dapat memfasilitasi tindak korupsi.

Selain itu, meningkatnya populasi tua dan pendanaan skema pensiun yang lemah serta kesenjangan pendapatan yang melebar juga dapat menahan momentum ekonomi saat ini. 

Baca: Bos IMF Akan Serahkan Bantuan ke Korban Gempa Lombok Hari Ini

Dan yang tidak kalah pentingnya, menurut bos IMF itu, adalah isu perubahan iklim yang dapat sangat merusak kesejahteraan ekonomi dalam beberapa dekade ke depan jika tidak ditangani. “Negara- negara juga perlu tetap fokus pada berbagai tantangan tersebut yang dampaknya tidak langsung kentara karena berlangsung lama,” tulis Christine Lagarde. 

BISNIS

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Lanjutkan Penguatan, Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp 16.136 per Dolar AS

5 hari lalu

Pegawai tengah menghitung uang pecahan 100 dolar Amerika di Penukaran Valuta Asing PT Ayu Masagung, Jakarta, Kamis 20 Juni 2024. Rupiah spot berbalik melemah pada perdagangan Kamis (20/6) pagi. Pukul 09.10 WIB, rupiah spot ada di level Rp 16.391 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,16% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.365 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan
Lanjutkan Penguatan, Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp 16.136 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah hari ini ditutup menguat 58 poin menjadi Rp 16.136 per dolar AS.


Komitmen dalam International Mayors Forum 2024 dan Praktik Baik Jakarta

12 hari lalu

Pj Gubernur Heru Budi Hartono bersama sejumlah pejabat dan delegasi memegang guci berisi usulan terkait sustainable development goals (SDGs), di Hotel Grand Hyatt, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 4 Juli 2024.Dok. Pemprov DKI Jakarta.
Komitmen dalam International Mayors Forum 2024 dan Praktik Baik Jakarta

International Mayors Forum (IMF) 2024 berlangsung sukses. Selama tiga hari, 2-4 Juli, sekitar 200 peserta dari 36 negara dan 74 kota di kawasan Afrika, Asia-Pasifik, Amerika Latin, dan Asia Barat, telah berdiskusi dan saling belajar dalam upayanya mencapai agenda pembangunan berkelanjutan.


Rupiah Melemah Nyaris Rp 16.500 per 1 US Dollar Disebut Terendah Sejak Krisis Moneter 1998, Ini Kilas Baliknya

24 hari lalu

Massa membalik dan membakar mobil pada kerusuhan tanggal 14 mei 1998 di jalan hasyim ashari, Jakarta [ Bodhi Chandra/ DR; 20000422 ].
Rupiah Melemah Nyaris Rp 16.500 per 1 US Dollar Disebut Terendah Sejak Krisis Moneter 1998, Ini Kilas Baliknya

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus merosot bahkan hampir menyentuh Rp 16.500. Rupiah melemah ini disebut terburuk sejak krisis moneter 1998.


Inflasi di Pakistan Berdampak pada Harga Hewan Kurban

32 hari lalu

Ilustrasi sapi qurban. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko
Inflasi di Pakistan Berdampak pada Harga Hewan Kurban

Warga Pakistan mengeluhkan mahalnya hewan kurban untuk Idul Adha, di tengah masalah inflasi yang dihadapi negara tersebut.


10 Negara dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi 2024

37 hari lalu

Sejumlah pencari kerja mengunjungi pameran bursa kerja Jakarta Job Fair di Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta, Senin 18 September 2023. Sebanyak 40 perusahaan terkemuka dari berbagai bidang yang menyediakan lowongan bagi pelamar kerja ini berlangsung hingga 19 September 2023. Tempo/Tony Hartawan
10 Negara dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi 2024

Berikut ini deretan negara dengan persentase pengangguran tertinggi di dunia per April 2024 berdasarkan data IMF. Indonesia nomor berapa?


Cadangan Devisa Akhir Mei Naik, Ditopang Penerimaan Pajak dan Surat Utang Negara

40 hari lalu

Karyawan melintas di area perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Selasa, 31 Mei 2022. Peningkatan tingkat inflasi ini terutama didorong oleh peningkatan baik harga energi dan harga pangan. Yang kemudian ditransmisikan dalam peningkatan komponen volatile food dan administered price. TEMPO/Tony Hartawan
Cadangan Devisa Akhir Mei Naik, Ditopang Penerimaan Pajak dan Surat Utang Negara

BI mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2024 senilai US$ 139 miliar atau meningkat meningkat sebesar US$ 2,8 miliar dibandingkan bulan akhir April.


Sri Mulyani Sebut Pertumbuhan Ekonomi Global Bakal Stagnan di 3,2 Persen, Bagaimana Dampaknya ke RI?

3 Mei 2024

Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama jajarannya bersiap memulai konferensi pers APBN Kita edisi Maret 2024 di Jakarta, Senin 25 Maret 2024. Sri Mulyani mengatakan, realisasi anggaran Pemilu 2024 hingga 29 Februari 2024 sebesar Rp 23,1 triliun. TEMPO/Tony Hartawan
Sri Mulyani Sebut Pertumbuhan Ekonomi Global Bakal Stagnan di 3,2 Persen, Bagaimana Dampaknya ke RI?

Sri Mulyani menyebut perkiraan pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini bakal relatif stagnan dengan berbagai risiko dan tantangan yang berkembang.


Sri Mulyani Temui Wapres, Bahas Mitigasi Dampak Geopolitik Timur Tengah

30 April 2024

Presiden Jokowi (tengah) bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Wapres Ma'ruf Amin saat Penyerahan DIPA dan Buku Daftar Alokasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa Tahun 2020 di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 14 November 2019. TEMPO/Subekti.
Sri Mulyani Temui Wapres, Bahas Mitigasi Dampak Geopolitik Timur Tengah

Menteri Keuangan Sri Mulyani menemui Wakil Presiden Maruf Amin untuk melaporkan hasil pertemuan IMF-World Bank Spring Meeting dan G20 yang saya hadiri di Washington DC. pekan lalu. Dalam pertemuan itu, Sri Mulyani pun membahas mitigasi dampak geopolitik di Timur Tengah.


Dampak Serangan Houthi, Volume Perdagangan Lewat Terusan Suez Anjlok hingga 50 Persen

8 Maret 2024

Sebuah kapal kargo melintasi Terusan Suez baru setelah upacara peresmian di Ismailia, Mesir, 6 Agustus 2015. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh
Dampak Serangan Houthi, Volume Perdagangan Lewat Terusan Suez Anjlok hingga 50 Persen

Volume perdagangan lewat Terusan Suez turun hingga 50 persen dalam dua bulan pertama 2024 akibat serangan Houthi.


Profil Shehbaz Sharif, Dua Kali Pemenang Posisi Perdana Menteri Pakistan

4 Maret 2024

Shehbaz Sharif, REUTERS/Akhtar Soomro
Profil Shehbaz Sharif, Dua Kali Pemenang Posisi Perdana Menteri Pakistan

Shehbaz Sharif, yang kembali menjabat perdana menteri Pakistan untuk kedua kali, telah memainkan peran penting dalam menyatukan koalisi yang berbeda.