Tingkat Kemiskinan Diklaim Turun, Ini Kondisi di Kalimantan Utara

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kemiskinan. Dok. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Ilustrasi kemiskinan. Dok. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Samarinda - Tingkat kemiskinan yang diupayakan pemerintah untuk terus turun ternyata belum sepenuhnya berhasil karena di sejumlah daerah jumlah penduduk miskin malah bertambah. Jumlah penduduk miskin di Kalimantan Utara, misalnya, meningkat 1,83 persen atau bertambah 1.790 orang selama periode September 2017 hingga Maret 2018. Jumlah penduduk miskin di Kalimantan Utara pada Maret 2018 sebesar 50,35 ribu atau 7,09 persen.

    Baca: Jokowi Optimistis Angka Kemiskinan Turun: Insya Allah Satu Digit

    "Dibandingkan September 2017, penduduk miskin sebesar 48,56 ribu 6,96 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Atqo Mardiyanto, di Samarinda, Senin, 16 Juli 2018. Atqo menjelaskan, jumlah penduduk miskin secara absolut bertambah 1,79 ribu orang atau bertambah 1,83 persen.

    Jumlah penduduk miskin daerah perkotaan dan pedesaan mengalami kenaikan, baik secara absolut maupun persentase. Selama periode September 2017 hingga Maret 2018, penduduk miskin di kota naik 0,73 ribu orang dari 21,81 ribu orang pada September 2017 menjadi 22,54 ribu orang pada Maret 2018 atau secara persentase naik 0,07 perseb dari 5,39 persen menjadi 5,46 persen.

    Baca: Bappenas Pangkas Kemiskinan Tinggal 9,5 Persen di 2018 Lewat...

    "Penduduk miskin di daerah pedesaan mengalami kenaikan sebanyak 1,06 ribu orang dari 26,75 ribu orang pada September 2017 menjadi 27,81 ribu orang pada Maret 2018 atau secara persentase naik 0,21 persen dari 9,14 persen menjadi 9,36 persen,” kata Atqo.

    Sementara itu, selama September 2017 hingga Maret 2018, indeks kemiskinan (P1) di Kalimantan Utara mengalami penurunan, dari 1,323 pada September 2017 menjadi 1,095 pada Maret 2018. Demikian pula indeks keparahan kemiskinan (P2) mengalami penurunan dari 0,312 menjadi 0,265.

    Adapun pada Maret 2018, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk yang diukur dengan gini ratio tercatat sebesar 0,303. "Angka ini turun sebesar 0,010 poin jika dibandingkan dengan gini ratio September 2017 yang sebesar 0,313," kata Atqo.

    Dan, pada Maret 2018, distribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah adalah sebesar 21,63 persen. Artinya pengeluaran penduduk masih berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah.

    Sementara itu, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan persentase kemiskinan di Indonesia turun hingga 9,82 persen. "Maret 2018 pertama kalinya persentase kemiskinan satu digit, ini terendah," ujar dia di Kantor BPS, Senin, 16 Juli 2018.

    Suhariyanto menjelaskan sejak tahun 2002 kemiskinan di Indonesia berangsur menurun. Tahun ini, penduduk di bawah garis kemiskinan turun hingga 633,2 ribu orang.

    Jika dibandingkan dengan tahun 2017, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan mencapai 26,58 juta orang. "Maret 2018 penduduk miskin berjumlah 25,95 juta orang," tutur dia.

    Jumlah penduduk miskin di perkotaan, kata Suhariyanto turun sebanyak 128,2 ribu orang. Sementara di daerah pedesaan, turun sebanyak 505 ribu orang.

    Suhariyanto menjelaskan peran komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dari komoditi bukan makanan. Seperti, perumahan, sandang, dan pendidikan.

    Jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan, kata Suhariyanto, ialaj beras, rokok kretek, telur ayam, daging ayam, mie instan, dan gula pasir. Adapun komoditi nonmakanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan, ialah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

    CHITRA PARAMAESTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.