Bekraf Ajak Berkolaborasi Mendorong Laju Ekonomi Kreatif

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Bekraf, Triawan Munaf, seusai penandatangan kesepakatan kerja sama antara Bekraf dengan berbagai komunitas kreatif di Jakarta, Rabu (15-5-2018). (Dok. Bekraf)

    Kepala Bekraf, Triawan Munaf, seusai penandatangan kesepakatan kerja sama antara Bekraf dengan berbagai komunitas kreatif di Jakarta, Rabu (15-5-2018). (Dok. Bekraf)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Ekonomi Kreatif atau Bekraf Triawan Munaf mengatakan, kolaborasi antara semua pihak bisa mendorong laju pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia.

    “Ini zaman kolaborasi. Tak bisa lagi kita jalan sendiri-sendiri. Komunitas kreatif dari berbagai bidang, pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, media, komunitas, semua harus bergandeng tangan,” kara Triawan di tengah acara “Penandatangan Kesepakatan Kerja Sama Bekraf dengan Asosiasi, Komunitas, dan Yayasan” di Gedung Bekraf, Jakarta, Selasa, 15 Mei 2018.

    Triawan menambahkan, ekonomi kreatif sedang mengalami peningkatan. Laju teknologi, revolusi digital, pertukaran informasi yang semakin cepat, membuat dunia kian terhubung tanpa batas. Peluang tumbuh terbuka di berbagai bidang di seluruh dunia.

    Indonesia juga turut serta dalam derap pertumbuhan ekomomi kreatif. Bekraf menargetkan sektor ekonomi kreatif menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) minimal Rp 1.100 triliun di 2018 ini. Angka itu lebih tinggi dari PDB yang didapat dari ekonomi kreatif pada 2017 (Rp 1000 triliun) dan 2016 ( Rp 922,59 triliun).

    “Syaratnya, semua pihak harus berkolaborasi. Ini pekerjaan yang tidak mudah,” kata Triawan. Pemerintah, Triawan mengakui, juga masih sering jalan sendiri-sendiri. Masing-masing lembaga memiliki program yang terpisah.

    “Kita harus memaksakan diri untuk bersedia berkolaborasi. Memang, pekerjaan jadi lebih ribet, kita harus meluangkan waktu ketemu sana-sini. Tapi, dengan kolaborasi hasilnya pasti jauh lebih bagus.”

    M Arief Budiman, dari Indonesia Creative Cities Network, membenarkan bahwa kolaborasi adalah kunci. “Kolaborasi membuat nilai tambah lebih kaya dan berbagai komunitas lokal jadi lebih berdaya,” kata Arief.

    Hadir dalam acara ini Wakil Kepala Bekraf RIcky Pesik, Deputi Hubungan Antarlembaga dan Wilayah Endah Wahyu Sulistianti, dan wakil berbagai asosiasi dan komunitas yang menjalin kerja sama dengan Bekraf, antara lain, Yayasan Tempo 21 Juni 1994 - Tempo Institute, Persatuan Penulis Indonesia (Satupena), Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), Yayasan Spedagi Mandiri Lestari (Spedagi), Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Indonesia Kustom Kultur Festival (Kustomfest), Jogja Festivals (ARTJOG), dan Asosiasi Pencipta Seni Indonesia (APSI).

    Kerja sama dengan Yayasan Tempo 21 Juni - Tempo Institute berupa rangkaian roadshow penguatan kemampuan storytelling komunitas kreatif ke-12 kota. Sepanjang 2018, Tim Tempo akan berkeliling ke 12 kota (antara lain Padang, Bandung, Bojonegoro, Kupang, Atambua, Maumere, Singkawang, Kendari, Merauke).

    Dalam roadshow tersebut, Tim Bekraf dan Tempo akan bertemu komunitas pelaku ekonomi kreatif, dan bersama-sama meningkatkan kapasitas kemampuan storytelling untuk produk kreatif. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Skenario Satu Arah Pada Arus Mudik 2019 di Tol Jakarta - Cikampek

    Penerapan satu arah ini dilakukan untuk melancarkan arus lalu lintas mudik 2019 dengan memanfaatkan jalur A dan jalur B jalan Tol Jakarta - Cikampek.