Menteri ESDM Ignasius Jonan Teken Kerja Sama dengan ITS

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri ESDM Ignasius Jonan mencoba motor listrik Gesits (Garasindo Electric Scooter ITS)  di halaman Kementerian ESDM, Jakarta, 19 Oktober 2017. Motor Gesits sepenuhnya dibuat oleh mahasiswa ITS Surabaya dan didukung oleh Garasindo. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    Menteri ESDM Ignasius Jonan mencoba motor listrik Gesits (Garasindo Electric Scooter ITS) di halaman Kementerian ESDM, Jakarta, 19 Oktober 2017. Motor Gesits sepenuhnya dibuat oleh mahasiswa ITS Surabaya dan didukung oleh Garasindo. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Surabaya – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengunjungi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk menjalin kerja sama pengembangan kedaulatan energi, hari ini.

    Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara ITS dengan Balitbang Kementerian ESDM ini merupakan pembaruan nota serupa pada Maret 2014 soal peningkatan dan pengembangan sumber daya mineral, minyak dan gas bumi, serta energi laut.

    Baca juga: Ignasius Jonan: Tanpa Insentif Pajak, Mobil Listrik Tak Akan Laku

    Menteri ESDM Ignasius Jonan turut mengapresiasi keterlibatan ITS dalam pengembangan kedaulatan energi di Indonesia melalui inovasi kendaraan listrik yang telah dihasilkan. Ia menyarankan agar ITS segera memproduksi secara massal dan dijual secara komersil.

    “Karena kalau tidak pernah coba dijual, kita tidak tahu apa yang harus diperbaiki ke depan. Katanya 17 Agustus 2018 mau di-launching di kantor saya,” ujar Ignasius Jonan di gedung rektorat, Jumat, 9 Februari 2018.

    Ignasius Jonan sempat mengendarai mobil listrik Ezzy ITS di sekitaran gedung rektorat. Mobil listrik karya ITS itu sebelumnya pernah dikendarai oleh Presiden Joko Widodo saat peresmian Tol Surabaya-Mojokerto pada 19 Desember 2017, silam.

    Selain itu disepakati juga mengenai pengolahan dan pemurnian mineral, serta pengembangan transportasi dengan kendaraan listrik. Ignasius Jonan juga mengapresiasi produk prototype smelter yang dirancang oleh Departemen Teknik Material ITS.

    Namun, pada kesempatan ini, Ignasius Jonan mewakilkan pada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) ESDM, FX Sutijastoto untuk meninjau langsung mini smelter di Departemen Teknik Material ITS.

    Nilai investasi alat pemurni utama bahan tambang tergolong tinggi, sehingga pihaknya berupaya meningkatkan smelter dari riset ke dalam skala industri.  Pengolah logam blast furnace kapasitas 10 ton ore ini diharapkan mampu mendongkrak nilai tambah produksi penambangan kelas menengah ke bawah.

    “Seringkali perusahaan tambang skala kecil langsung menjual logam mentah tanpa mengolahnya,” ujar Dr Sungging Pintowantoro ST MT, Kepala Laboratorium Pengolahan Mineral dan Material (LPMM) Departemen Teknik Material ITS.

    Smelter yang juga mendapat dana hibah Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI ini rencananya akan segera dikomersialkan untuk beberapa perusahaan tambang di Luwu Timur, Makassar.

    Simak juga: Ignasius Jonan Minta Perusahaan Tambang Libatkan Masyarakat Lokal

    Selain meninjau produk teknologi ITS, kehadiran Menteri Ignasius Jonan ini juga untuk memberikan kuliah umum bertajuk Energi Berkeadilan di Ruang Sidang Utama Rektorat ITS. Dalam kuliah umumnya, Jonan juga menyinggung tentang pemerataan dan peningkatan rasio elektrifikasi. “Dari target 92,75 persen pada tahun 2017, terealisasi sebesar 95,35 persen,” tutur Jonan.

     Hal itu terlaksana berkat kemajuan kontrak pembangkit listrik Energi Baru Terbarukan (EBT). “Sebanyak 70 kontrak ditandatangani sepanjang tahun 2017 kemarin,” kata Ignasius Jonan  yang sebelumnya juga merupakan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.