PHK Marak, Menurut INDEF Ini Penyebabnya

Reporter

Selasa, 9 Februari 2016 11:27 WIB

Ribuan buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melakukan long march saat menggelar unjuk rasa di Jakarta, 6 Februari 2016. Dalam aksinya mereka menuntut pencabutan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 dan menghentikan PHK massal. TEMPO/Dhemas Reviyanto

TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati, mengungkapkan penyebab pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi awal 2016. Menurut dia, pemutusan hak kerja, restrukturisasi, atau relokasi beberapa perusahaan, seperti Ford, Panasonic, Toshiba, dan Chevron, murni karena pertimbangan bisnis. (Baca: Cegah PHK Karyawan, BKPM Surati Toshiba dan Panasonic)

“Sebenarnya tidak hengkang, karena kalau hengkang berarti ada permasalahan investasi di Indonesia. Ini murni pertimbangan bisnis, tapi punya implikasi terhadap pengangguran,” kata Enny saat dihubungi Tempo, Selasa, 9 Februari 2016.

Yang harus jadi perhatian pemerintah, kata Enny, adalah sekalipun investasi meningkat, dominasinya ada di capital intensive atau industri yang padat modal. "Bukan di industri padat karya,” ujarnya. (Baca juga: Menteri Darmin: Berita PHK dan Restrukturisasi Campur Aduk)

Enny menjelaskan, industri padat karya ini tidak mampu menggaet investor karena ada permasalahan perburuhan. Menurut dia, pemerintah harus segera menyelesaikannya untuk memperbaiki iklim investasi dalam negeri. “Kalau dilihat fenomena PHK, yang jadi keluhan investor adalah konsistensi kebijakan dan perburuhan,” katanya.

Enny menambahkan, pemerintah melalui Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri harus segera menyelesaikan persoalan perburuhan dengan berkomunikasi melalui berbagai asosiasi tenaga kerja. Dia menilai semua pihak yang terlibat harus menyamakan persepsinya. Di satu sisi, buruh ingin memperjuangkan nasibnya. Di sisi lain, tuntutan ini bisa semakin menjauhkan investasi padat karya di Indonesia.

“Lucunya, sekarang asosiasi pekerja menuntut tidak ada PHK tapi sekaligus menuntut kenaikan gaji. Siapa tahu suatu saat menuntut tidak bekerja tapi digaji,” tuturnya.

Enny mengatakan tantangan akan semakin berat dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN yang membebaskan pengusaha memiliki basis produksi di beberapa negara, tapi dapat berpenetrasi ke pasar di Indonesia. “Jadi kalau gaduh terus, sementara insentif di kawasan industri dan bea logistik tetap mahal, orang tidak salah kalau merelokasi di negara lain,” tuturnya. (Baca juga: Serikat Pekerja Minta Pemerintah Kontrol Buruh Kasar Cina)

ARKHELAUS WISNU

Berita terkait

Terpopuler: Tim Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Segera Dibentuk, AirAsia Tebar Promo Tiket 28 Rute Internasional Mulai Kemarin

8 hari lalu

Terpopuler: Tim Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Segera Dibentuk, AirAsia Tebar Promo Tiket 28 Rute Internasional Mulai Kemarin

Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia dan Tiongkok telah sepakat untuk membentuk tim ihwal penggarapan proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya.

Baca Selengkapnya

Kisruh Google Lakukan PHK yang Diprotes Tentang Kerjasama yang Dukung Israel, Pekerja Buka Suara

8 hari lalu

Kisruh Google Lakukan PHK yang Diprotes Tentang Kerjasama yang Dukung Israel, Pekerja Buka Suara

Salah satu karyawan Google pun buka suara terkait PHK yang dilakukan Google terhadap 28 karyawan.

Baca Selengkapnya

Perusahaan Lakukan PHK Karyawan, Simak Ketentuan Hak dan Kewajiban yang Harus Ditaati

8 hari lalu

Perusahaan Lakukan PHK Karyawan, Simak Ketentuan Hak dan Kewajiban yang Harus Ditaati

Perusahaan yang melakukan PHK perlu memperhatikan beberapa ketentuan mengenai hak dan kewajibannya terhadap karyawan.

Baca Selengkapnya

Ekonom Senior INDEF Sebut Indonesia Harus Antisipasi Dampak Konflik Iran-Israel

8 hari lalu

Ekonom Senior INDEF Sebut Indonesia Harus Antisipasi Dampak Konflik Iran-Israel

Meski tidak bersinggungan secara langsung dengan komoditas pangan Indonesia, namun konflik Iran-Israel bisa menggoncang logistik dunia.

Baca Selengkapnya

Antisipasi Dampak Konflik Iran-Israel, Ekonom: Prioritaskan Anggaran untuk Sektor Produktif

10 hari lalu

Antisipasi Dampak Konflik Iran-Israel, Ekonom: Prioritaskan Anggaran untuk Sektor Produktif

Di tengah konflik Iran-Israel, pemerintah mesti memprioritaskan anggaran yang bisa membangkitkan sektor bisnis lebih produktif.

Baca Selengkapnya

Google Kembali Melakukan PHK, Ini Alasannya

11 hari lalu

Google Kembali Melakukan PHK, Ini Alasannya

Dalam beberapa bulan terakhir Google telah melakukan PHK sebanyak 3 kali, kali ini berdampak pada 28 karyawan yang melakukan aksi protes.

Baca Selengkapnya

Alasan Tesla, Google, dan Amazon Kembali PHK Karyawan

12 hari lalu

Alasan Tesla, Google, dan Amazon Kembali PHK Karyawan

Raksasa teknologi Tesla, Google, dan Amazon melakukan PHK karyawan. Apa alasannya?

Baca Selengkapnya

Cerita Pilu RM, Mahasiswi Universitas Jambi Kerja Paksa di Jerman dari Sortir Buah hingga Kuli Bangunan

31 hari lalu

Cerita Pilu RM, Mahasiswi Universitas Jambi Kerja Paksa di Jerman dari Sortir Buah hingga Kuli Bangunan

Hingga detik ini, RM, mahasiswa Universitas Jambi itu menyimpan kisah pilu ferienjob dengan kedok magang mahasisw dengan tidak memberitahu keluarga.

Baca Selengkapnya

Terkini: PUPR Sebut Pembangunan IKN Gerudukan dan Was-was Diperiksa BPK, KFC dan Burger King hingga Popeyes Tebar Promo Paket Berbuka Puasa

40 hari lalu

Terkini: PUPR Sebut Pembangunan IKN Gerudukan dan Was-was Diperiksa BPK, KFC dan Burger King hingga Popeyes Tebar Promo Paket Berbuka Puasa

Direktur Bina Penataan Bangunan Kementerian PUPR Cakra Nagara mengatakan pembangunan IKN dilakukan gerudukan dan khawatir dengan pemeriksaan BPK.

Baca Selengkapnya

Bos Unilever Beberkan Alasan Pisahkan Unit Bisnis Es Krim dan PHK 7.500 Pekerja

40 hari lalu

Bos Unilever Beberkan Alasan Pisahkan Unit Bisnis Es Krim dan PHK 7.500 Pekerja

Unilever membeberkan alasan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 7.500 karyawannya di seluruh dunia.

Baca Selengkapnya