Pagu Lebih Besar, APBN Tahun Depan Didesain Realistis  

Reporter

Selasa, 4 Agustus 2015 22:04 WIB

Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 26 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan pembahasan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016 hampir rampung. Tanpa menyebutkan detail jumlahnya, Bambang menuturkan pagu indikatif belanja negara tahun depan akan lebih besar dari tahun 2015. Yang pasti, kata dia, pagu indikatif tahun depan di atas Rp 2.000 triliun. "Lebih tinggi dari tahun ini," katanya di kantor presiden, Selasa, 4 Agustus 2015.

Dia mengatakan jumlah tersebut sudah realistis sesuai dengan permintaan Presiden Joko Widodo dalam pidato pembukaan sidang kabinet sore ini. Bambang membenarkan realistis yang dimaksud adalah pertimbangan kondisi ekonomi yang belum pulih. Saat ditanya soal asumsi ekonomi tahun depan, Bambang enggan menyebutkan.

Bambang mengatakan penerimaan pajak tahun depan ditargetkan lebih tinggi dari tahun ini. Seperti penerimaan pajak, dana transfer ke daerah tahun depan juga bakal lebih besar dari tahun 2015. Dia menuturkan tidak semua daerah mendapatkan dana transfer. "Kriteria sesuai kebutuhan daerah. Ada yang memang enggak perlu, kayak Jakarta emang perlu?,"

Terkait dana bantuan sosial (bansos), Bambang menyebutkan, anggaran tersebut tidak dihapus melainkan direlokasi. Selama ini ada dana bansos yang salah catat. Ke depan, dana bansos yang salah catat tersebut akan dipindahkan ke belanja barang. "Ada dana bansos yang bener seperti Pendidikan, Kemensos, Kesehatan, itu enggak salah," katanya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil memastikan asumsi yang digunakan dalam menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016, termasuk target pertumbuhannya sudah realistis.

Bukan hanya asumsi makro dan target pertumbuhan, menurut Sofyan, target penerimaan pajak dalam RAPBN 2016 juga dipatok realistis. “Ada pertumbuhan sedikit dari target tahun lalu. Kan ada proyek 2015 kemudian ditentukan sedikit growth di atas target prognosa pendapatan tahun 2015,” kata Sofyan.

Namun saat ditanya berapa nilai RAPBN 2016, Sofyan mengelak menyebutkan. Ia beralasan angka-angkanya masih diembargo, karena akan disampaikan oleh Presiden pada pidato tanggal 14 Agustus mendatang. “Presiden sudah ada keputusan semua, tinggal dilaporkan dan disampaikan pada pidato tanggal 14 Agustus,” kata Sofyan.

ALI HIDAYAT

Berita terkait

Kuartal I-2024, KSSK Sebut Stabilitas Sistem Keuangan RI Terjaga meski Ketidakpastian Meningkat

2 jam lalu

Kuartal I-2024, KSSK Sebut Stabilitas Sistem Keuangan RI Terjaga meski Ketidakpastian Meningkat

Menkeu Sri Mulyani mengatakan Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia pada kuartal pertama tahun 2024 masih terjaga.

Baca Selengkapnya

Sektor Manufaktur Masih Ekspansif dan Inflasi Terkendali

12 jam lalu

Sektor Manufaktur Masih Ekspansif dan Inflasi Terkendali

Sektor manufaktur tunjukan tren kinerja ekspansif seiring Ramadhan dan Idul Fitri 2024. Sementara itu, inflasi masih terkendali.

Baca Selengkapnya

Terkini: Pendapatan Garuda Indonesia Kuartal I 2024 Melonjak, Sri Mulyani Kembali Bicara APBN untuk Transisi Energi

2 hari lalu

Terkini: Pendapatan Garuda Indonesia Kuartal I 2024 Melonjak, Sri Mulyani Kembali Bicara APBN untuk Transisi Energi

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. mencatatkan pertumbuhan pendapatan di kuartal I 2024 ini meningkat hingga 18,07 persen dibandingkan kuartal I 2023.

Baca Selengkapnya

Sri Mulyani Tekankan Pentingnya Kekuatan APBN untuk Efektivitas Transisi Energi

2 hari lalu

Sri Mulyani Tekankan Pentingnya Kekuatan APBN untuk Efektivitas Transisi Energi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menekankan pentingnya kekuatan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk efektivitas transisi energi.

Baca Selengkapnya

Turunnya Penerimaan Pajak Berdampak pada Defisit APBN

2 hari lalu

Turunnya Penerimaan Pajak Berdampak pada Defisit APBN

Jika penerimaan pajak terus anjlok di tengah melesatnya belanja negara, defisit APBN bisa membengkak.

Baca Selengkapnya

Disebut Tukang Palak Berseragam, Berapa Pendapatan Pegawai Bea Cukai?

2 hari lalu

Disebut Tukang Palak Berseragam, Berapa Pendapatan Pegawai Bea Cukai?

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sedang menjadi sorotan publik karena sejumlah kasus dan disebut tukang palak. Berapa pendapatan pegawai Bea Cukai?

Baca Selengkapnya

Semakin Turun, Surplus APBN Maret 2024 Hanya Rp 8,1 Triliun

7 hari lalu

Semakin Turun, Surplus APBN Maret 2024 Hanya Rp 8,1 Triliun

Sri Mulyani menilai kinerja APBN triwulan I ini masih cukup baik.

Baca Selengkapnya

Sri Mulyani: Anggaran Pemilu 2024 Belum Terbelanjakan Rp 12 Triliun

7 hari lalu

Sri Mulyani: Anggaran Pemilu 2024 Belum Terbelanjakan Rp 12 Triliun

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan masih ada Rp 12,3 triliun anggaran Pemilu 2024 yang belum terbelanjakan.

Baca Selengkapnya

Harga Minyak Dunia Naik, Sri Mulyani Bisa Tambah Anggaran Subsidi

7 hari lalu

Harga Minyak Dunia Naik, Sri Mulyani Bisa Tambah Anggaran Subsidi

Menteri Keuangan Sri Mulyani bisa melakukan penyesuaian anggaran subsidi mengikuti perkembangan lonjakan harga minyak dunia.

Baca Selengkapnya

Sri Mulyani Sebut Realisasi Anggaran IKN Baru Mencapai 11 Persen

7 hari lalu

Sri Mulyani Sebut Realisasi Anggaran IKN Baru Mencapai 11 Persen

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa realisasi anggaran dari APBN untuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) baru mencapai 11 per

Baca Selengkapnya