DPR Menilai PIP Tidak Bisa Kelola PT Inalum

Reporter

Sabtu, 13 Oktober 2012 18:03 WIB

TEMPO/Adri Irianto

TEMPO.CO, Jakarta -Dewan Perwakilan Rakyat menilai rencana divestasi PT Inalum (Persero) oleh pemerintah dengan menunjuk Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebagai pengelolanya dinilai tidak tepat. Ketua Komisi VI DPR, Airlangga Hartanto mengatakan PIP tidak mempunyai pengalaman dalam menangani bisnis alumunium smelter.

“Inalum merupakan sektor usaha yang sangat kompetitif di pasar, sehingga perlu pemegang saham aktif yang mengerti lingkup usaha sektor alumunium,” kata Airlangga saat dihubungi Tempo, Sabtu, 13 Oktober 2012.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan berencana mengambil alih aset PT Inalum yang nilainya mencapai Rp 7 triliun. Pada anggaran 2012, pemerintah menganggarkan Rp 2 triliun untuk Inalum. Namun, hingga saat ini anggaran belum cair. Sementara pada anggaran 2013, pemerintah mengajukan anggaran Rp 5 triliun. Dana itu pun belum mendapat persetujuan Dewan.

Kamis lalu, 11 Oktober, Badan Anggaran DPR telah mengambil kesepakatan terkait dengan draf Rancangan Undang-Undang APBN 2013. Namun, pasal 18 tentang penunjukan PIP dalam pengambilalihan PT Inalum masih belum disepakati dan akan dibahas dalam rapat kerja dengan Menteri Keuangan, 16 Oktober 2012 mendatang.

Pemilikan saham secara portofolio oleh Kementerian Keuangan, menurut Airlangga, tidak akan strategis, karena Kementerian Keuangan sebaiknya berkonsentrasi pada sektor keuangan negara dan ekonomi makro. Menurut dia, jika pengambil-alihan PT Inalum tanpa disertai rencana bisnis yang tepat, maka akan kalah bersaing dengan industri yang akan di bangun di Kalimantan Timur dan Malaysia.

“Kemenkeu jangan mengulangi kesalahan dengan mengelola BUMN sendiri seperti Geodipa yang sulit bersaing di pasar dan memerlukan penyertaan modal negara setiap tahun,” ucapnya.

Menurut Airlangga, opsi yang bisa ditempuh pemerintah dalam divestasi PT Inalum adalah dengan menjadikan PT Inalum sebagai badan usaha milik negara atau mengundang investor strategis yang bersedia membangun alumunium smelter sebagai bahan baku strategis PT Inalum. “Seharusnya disoroti juga periode Yendaka saat Inalum mengalami kerugian terus.”

Wakil Ketua Komisi Keuangan dan Perbankan DPR, Harry Azhar Azis, mempertanyakan keuntungan jika pemerintah mengambil alih PT Inalum. Hingga saat ini pemerintah belum menjelaskan secara terperinci rencana tersebut. Dia juga mempertanyakan apakah PT Inalum akan selamanya dikelola oleh PIP seperti usulan pemerintah.

"Kami belum tahu isinya seperti apa, bagaimana cost benefit-nya? Bagaimana pengelolaannya? Apakah akan selamanya oleh PIP atau hanya sementara? Ini harus clear dulu," kata Harry.

Sementara Wakil Ketua Badan Anggaran DPR, Tamsil Linrung mengatakan rencana mengambil alih Inalum dengan menunjuk PIP merupakan salah satu isu krusial yang hingga saat ini belum ditemukan jalan keluarnya. “Harus dinilai aspeknya. Inalum selama ini merugi terus,” katanya.

Tamsil menambahkan Badan Anggaran menyerahkan pembahasan Inalum ke Komisi XI dan Komisi VI DPR. Namun dia menegaskan pembelian Inalum dengan menggunakan dana dari APBN masih memungkinkan jika pemerintah dapat menjelaskan segala keuntungan dan risiko secara transparan.

Untuk diketahui, proyek Inalum merupakan hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Investor asal Jepang yang tergabung dalam Nippon Asahan Alumunium Co. Ltd (NAA). Kerja sama yang dimulai sejak 1975 ini akan berakhir pada 2013 mendatang. Pemerintah saat ini menguasai 41,12 persen saham Inalum. Sementara sisanya dikuasai oleh Nippon Asahan Alumunium.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Herry Purnomo, menyatakan pihaknya akan membahas terlebih dahulu mengenai sikap DPR. "Belum ada yang bisa dijelaskan. Kami akan bahas dulu dan nanti dibawa ke rapat kerja."

ANGGA SUKMA WIJAYA

Berita terkait

BRI Optimis Tumbuh Lebih Baik di Tahun 2024

5 Februari 2024

BRI Optimis Tumbuh Lebih Baik di Tahun 2024

BRI menerapkan secara konsisten strategi just right liquidity

Baca Selengkapnya

Direktur Utama BRI Optimis Kinerja Positif

22 Mei 2023

Direktur Utama BRI Optimis Kinerja Positif

Perseroan optimis pada tahun ini dapat mencatatkan kinerja lebih baik

Baca Selengkapnya

Inovasi BNI agar Kinerja Melesat di 2023

16 Maret 2023

Inovasi BNI agar Kinerja Melesat di 2023

BNI menjalankan sejumlah inovasi untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi nasabah.

Baca Selengkapnya

Tujuh Strategi Transformasi BNI di Tahun 2023

12 Februari 2023

Tujuh Strategi Transformasi BNI di Tahun 2023

Berpedoman kepada tujuh kebijakan strategis, BNI optimistis akan mencetak kinerja yang lebih baik di tahun 2023.

Baca Selengkapnya

Emang Paling Digital, Bank Mandiri Torehkan Kinerja Apik di 2022

6 Februari 2023

Emang Paling Digital, Bank Mandiri Torehkan Kinerja Apik di 2022

Sepanjang 2022, Bank Mandiri telah secara aktif menggarap segmen digital banking untuk mendukung transformasi digital

Baca Selengkapnya

Produksi Komoditas Antam Terjaga Stabil sepanjang 2022

6 Februari 2023

Produksi Komoditas Antam Terjaga Stabil sepanjang 2022

Seluruh lini produksi mulai dari feronikel, emas, hingga alumina tetap bertumbuh di tengah tantangan kondisi global.

Baca Selengkapnya

Erick Thohir: Kinerja Apik Pelindo Berkat Kerja Keras Direksi, Komisaris, dan Seluruh Pegawai

22 Januari 2023

Erick Thohir: Kinerja Apik Pelindo Berkat Kerja Keras Direksi, Komisaris, dan Seluruh Pegawai

Menteri BUMN Erick Thohir menyebut kinerja apik Pelindo merupakan kerja keras jajaran direksi, komisaris, dan seluruh pegawai Pelindo.

Baca Selengkapnya

Penerapan Wealth Management for All Tingkatkan Bisnis Nasabah Premium BRI

10 Januari 2023

Penerapan Wealth Management for All Tingkatkan Bisnis Nasabah Premium BRI

Melalui kinerja Wealth Management yang progresif selama 2022, BRI juga berhasil mendapat sejumlah penghargaan.

Baca Selengkapnya

Tunaikan Kinerja Cemerlang, BRI Bagikan Dividen Interim Rp.8,63 triliun

3 Januari 2023

Tunaikan Kinerja Cemerlang, BRI Bagikan Dividen Interim Rp.8,63 triliun

BRI mampu menjaga pertumbuhan Kredit dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga yang solid.

Baca Selengkapnya

Kinerja Saham Bank Mandiri Menguat

13 Oktober 2022

Kinerja Saham Bank Mandiri Menguat

Sempat anjlok hingga Rp 3.760 per lembar saham pada Mei, kini saham Bank Mandiri menguat jadi Rp 9.600.

Baca Selengkapnya