Selasa, 20 November 2018

Buka 300 Gerai di Sumatera Barat, Berikut Strategi Minang Mart

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali Kota Padang, Mahyeldi (kanan atas), ikut menebarkan bungkusan gula pasir saat dilangsungkan tradisi, Serak Gula di Masjid Muhamamdan, Padang, Sumatra Barat, 27 Februari 2017. ANTARA FOTO

    Wali Kota Padang, Mahyeldi (kanan atas), ikut menebarkan bungkusan gula pasir saat dilangsungkan tradisi, Serak Gula di Masjid Muhamamdan, Padang, Sumatra Barat, 27 Februari 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, PADANG — PT Retail Modern Minang menargetkan mampu membuka 300 gerai dengan brand Minang Mart dan Kedai Minang di seluruh Sumatra Barat hingga penghujung tahun ini.

    Direktur Utama Retail Modern Minang Syaiful Bahri menyebutkan potensi pembukaan ritel di daerah itu sangat terbuka lebar mengingat masih minimnya penyebaran toko modern di Sumbar.

    Baca : Pengusaha Minta Walikota Risma Bantu Produk UMKM

    “Potensi pasarnya masih besar. Saya lihat masyarakat yang belanja itu selalu menomorsatukan tempat belanjanya yang nyaman dan barangnya terjamin,” katanya kepada Bisnis.com, Sabty 25 Maret 2017.

    Dia menyebutkan perseroan sudah membuka 20 gerai di Kota Padang dengan brand Minang Mart untuk tipe A dan B, serta Kedai Minang untuk kategori C.

    Baca : UMKM Diklaim sebagai Penggerak Ekonomi Terbesar

    Pembukaan gerai baru itu tidak hanya di Kota Padang, tetapi juga menyasar sebagian besar wilayah Sumbar. Dalam waktu dekat, juga dibuka gerai di Bukittinggi, Payakumbuh, dan Sungai Rumai, Kabupaten Dharmasraya.

    Pembukaan gerai dengan klasifikasi toko tipe B dan C dengan sistem kemitraan menjadi target utama Minang Mart. Dia mengklaim sudah lebih dari 600 calon mitra yang mengajukan kerjasama kemitraan untuk pembukaan gerai Minang Mart.

    “Selain modali dan buka toko sendiri, kami memprioritaskan kemitraan dengan masyarakat, terutama yang sudah punya toko. Kami bantu manajemennya dan rebranding,” ujar Syaiful.

    Adapun, ritel tipe A adalah dengan skala besar yang beroperasi 24 jam, tipe B merupakan ritel biasa yang tidak beroperasi 24 jam. Selain itu, tipe C dengan brand Kedai Minang untuk warung atau toko kelontong, dan tipe D bagi pedagang yang menggunakan gerobak.

    Syaiful memastikan tidak ada waralaba dalam bisnis yang dilakukan perseroan, melainkan hanya dalam bentuk kemitraan kepada pemilik toko.

    Selain itu, perseroan juga menargetkan produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di daerah itu diprioritaskan masuk Minang Mart dengan porsi mencapai 30 persen dari keseluruhan produk yang dijual.

    “Untuk sekarang, (produk UMKM) porsinya sudah 25 persen di hampir seluruh ritel Minang Mart yang ada,” katanya.

    Umumnya, produk dari masyarakat tersebut adalah makanan olahan dan penganan lokal, seperti kerupuk, rendang, dendeng, dan produk lainnya.

    Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah mengingatkan agar produk milik masyarakat atau UMKM mendapatkan porsi yang lebih besar untuk dijual di Minang Mart, sehingga kehadiran ritel itu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

    “Perlu diperhatikan agar produk yang dihasilkan masyarakat dijual di Minang Mart, sehingga masyarakat sekitar mendapatkan manfaat secara ekonomi,” katanya.

    Untuk diketahui, PT Retail Modern Minang adalah perusahaan yang dibentuk dari joint venture antara PT Sentra Distribusi Nusantara (SDN) dengan BUMD PT Grafika Jaya Sumbar.

    Sebelumnya, Pemprov Sumbar menunjuk PT Grafika Jaya bersama dua BUMD lainnya, PT BPD Sumbar alias Bank Nagari dan PT Jamkrida Sumbar untuk mengembangkan ritel khas daerah dengan tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.