AP I Proyeksikan Lelang Bandara Ahmad Yani Selesai 2017

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bandara Ahmad Yani  Semarang, Jawa Tengah. ANTARA/R. Rekotomo

    Bandara Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah. ANTARA/R. Rekotomo

    TEMPO.CO, Jakarta - Operator 13 bandara di Indonesia timur, PT Angkasa Pura I memproyeksikan proses lelang pekerjaan untuk pembangunan terminal Bandara Ahmad Yani Semarang senilai Rp989,9 miliar akan rampung pada Februari 2017.

    Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura I Israwadi mengatakan proses lelang pengembangan terminal Ahmad Yani masih harus melalui sejumlah tahapan.

    Menurutnya, progres lelang saat ini tengah dalam masa penilaian teknis.

    “Sebenarnya target [pemenang lelang] Februari sudah ditunjuk. Namun, kami evaluasi untuk bisa dipercepat, sehingga Januari itu bisa segera ditunjuk. Sekarang masih proses pengadaan. Ada penilaian teknis,” katanya di Jakarta, Selasa, 29 November 2016.

    Israwadi merinci sedikitnya ada 13 tahapan yang harus dilalui untuk mendapatkan pemenang lelang antara lain pengumuman pentek, membuka penawaran harga (sampul 2), koreksi aritmatika, klarifikasi penawaran harga, dan evaluasi kewajaran harga.

    Laporan hasil lelang, usulan penetapan pemenang, evaluasi oleh Team Evaluation Project Strategis (TEPS), penetapan pemenang, masa sanggah empat hari, bayar jaminan pelaksanaan dan biaya dokumen, serta kontrak kerjasama.

    “Tahapan yang harus dilalui memang cukup banyak karena kami harus meyakinkan bahwa proses pemilihan kontraktor dilakukan dengan hati-hati, sehingga tepat mutu, tepat harga dan tepat waktu penyelesaian,” tuturnya.

    Sekadar informasi, pengembangan Achmad Yani terdiri dari empat paket antara lain paket I yang meliputi pembuatan jalan akses dan perbaikan lahan. Progres pekerjaan paket II saat ini baru sekitar 70%, dan ditargetkan rampung Desember 2016.

    Paket II yang meliputi pekerjaan membangun fasilitas tempat parkir pesawat (apron) dan jalur penghubung antara landas pacu dengan apron (taxiway). Adapun, pekerjaan paket II telah selesai.

    Dengan demikian, luas apron Achmad Yani kini mencapai 72.500 meter persegi, naik 150% dari sebelumnya seluas 29.032 meter persegi. Dengan luas apron itu, bandara mampu menampung 10 pesawat berbadan sempit, dan dua pesawat berbadan lebar.

    Lalu, paket III meliputi pembangunan terminal. Rencananya, terminal Achmad Yani bakal diperluas hingga 58.652 meter persegi, sehingga mampu menampung sebanyak enam juta penumpang, naik 650% dari sebelumnya hanya 800.000 penumpang.

    Kemudian, paket IV akan meliputi pembangunan kantor dan gedung operasional. Apabila tidak ada aral melintang, pekerjaan paket IV akan dimulai Maret 2017, dan rampung pada September-Oktober 2018.

    Dari seluruh paket pekerjaan tersebut, nilai investasi yang digelontorkan Angkasa Pura I mencapai Rp2,1 triliun. Asal tahu saja, pengembangan Achmad Yani telah dilakukan sejak 2014 yang lalu, dan ditargetkan rampung pada 2018.

    Seperti diketahui, lima bandara akan menjadi prioritas Angkasa Pura I hingga 2020 a.l. Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Achmad Yani, Yogyakarta Baru Kulonprogo, Juanda Surabaya, dan Sultan Hasanuddin Makassar.

    Finance & Information Director PT Angkasa Pura I Novrihandri mengatakan kondisi kelima bandara itu sudah mendesak untuk dikembangkan guna menjaga kualitas layanan tetap baik, sekaligus mengimbangi laju pertumbuhan industri penerbangan nasional.

    "Kebutuhan dana Rp25 triliun akan digunakan untuk mengembangkan lima bandara, dimana saat ini kondisinya itu sudah mengalami lack of capacity, sehingga kualitas pelayanan bandara bagi penumpang juga bakal menurun," ujarnya.

    Selain itu, pengembangan kelima bandara juga untuk mengantisipasi pertumbuhan jumlah pengguna jasa bandara ke depannya. Apalagi, pangsa pasar pengguna jasa angkutan udara di Indonesia saat ini masih terbilang kecil.

    Dia mencatat pengguna jasa angkutan udara dari Indonesia saat ini baru sekitar 44% dari total jumlah penduduk Indonesia. Sementara, negara seperti Jepang, pengguna angkutan udaranya sudah mencapai 83% dari total penduduk Jepang sebesar 127 juta orang.

    “Singapura saja pengguna angkutan udaranya itu malah sampai 500% dari total penduduk Singapura. Ini artinya, peluang jumlah pengguna angkutan udara di Indonesia masih sangat terbuka lebar untuk berkembang,” ujarnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.