SBY: Perajin Tasik Jangan Takut Hadapi MEA  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ani Yudhoyono meninggalkan tempat usai memberikan kuliah umum di Universitas Udayana, Denpasar, Bali, 2 Februari 2016. TEMPO/Johannes P. Christo

    Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ani Yudhoyono meninggalkan tempat usai memberikan kuliah umum di Universitas Udayana, Denpasar, Bali, 2 Februari 2016. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Tasikmalaya – Mantan presiden  Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu, 9 Maret 2016. Pada kunjungan ke Kabupaten Tasikmalaya, SBY mengunjungi sentra kerajinan Rajapolah.

    SBY, Ani Yudhoyono, Edhi Baskoro, dan rombongan pengurus DPP Partai Demokrat tiba di Rajapolah pada Rabu sore tadi. Turun dari bus, SBY dan Ani langsung menuju sejumlah toko kerajinan di sentra kerajinan Rajapolah.

    Di sela membeli kerajinan, SBY sempat ditanya wartawan ihwal Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dia menjelaskan, tiap negara ASEAN mempunyai keunggulan masing-masing.

    "Belum tentu negara Filipina, Malaysia punya kerajinan seperti di sini," katanya saat meninjau sejumlah kerajinan di Rajapolah.

    Dia berujar, pendapatan dari kerajinan akan meningkat, asalkan perajin tekun. Selain itu, mereka harus produktif dan efisien dengan tetap menjaga mutu produk kerajinan. "Tidak perlu takut hadapi MEA," ucap SBY.

    Menurut dia, perajin mesti siap menghadapi MEA. Jika perajin butuh bantuan, pemerintah harus membantu. "Saya punya keyakinan, produk Indonesia tetap disukai," tuturnya.

    Setelah mengunjungi dan membeli kerajinan di Rajapolah, SBY dan rombongan menuju Kota Tasikmalaya. SBY akan menggelar pertemuan dengan kader Partai Demokrat se-Priangan Timur.

    CANDRA NUGRAHA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.