Minyak Mentah Turun, Pertamina Sesuaikan Harga Avtur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melakukan pengisian avtur ke pesawat Saudi Arabian Airlines yang akan membawa calon jamaah haji di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur, (2/10). ANTARA/M Risyal Hidayat

    Petugas melakukan pengisian avtur ke pesawat Saudi Arabian Airlines yang akan membawa calon jamaah haji di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur, (2/10). ANTARA/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina (Persero) kembali menurunkan harga bahan bakar minyak jenis avtur rata-rata Rp143 per liter pada periode 15-31 Januari 2016.

    Wakil Presiden Komunikasi Pertamina Wianda Pusponegoro di Jakarta, Kamis (14 Januari 2016), mengatakan penyesuaian harga avtur dilakukan seiring dengan penurunan harga minyak mentah serta efisiensi yang terus dilakukan perusahaan. "Penyesuaian harga ini berlaku di seluruh Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Pertamina dengan rata-rata penurunan Rp143 per liter," katanya.

    Di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, menurut dia, penurunan harga avturnya Rp170 per liter. "Kami mengharapkan penurunan harga ini dapat mendukung industri penerbangan nasional," ujarnya seperti dikutip dari Antara.

    Wianda menambahkan untuk meningkatkan daya saing produk avturnya perusahaan melanjutkan langkah efisiensi antara lain dengan penggunaan kapal lebih besar guna menurunkan biaya prngiriman dan juga optimalisasi stok.

    Ia juga mengatakan bahwa untuk meningkatkan transparansi Pertamina menampilkan informasi perubahan harga ritel (Posting Airfield Price/PAP) dengan harga jual di setiap lokasi di laman www.pertamina.com/aviation.

    Saat ini, ia menjelaskan, ketahanan stok avtur Pertamina mencapai 26 hari. Pertamina melayani penjualan bahan bakar aviasi di 64 DPPU seluruh Indonesia. Sebelumnya, pada periode 1-14 Januari 2016, harga avtur turun rata-rata 2,89 persen.

    Harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta ketika itu turun Rp200 per liter. Sementara di Kualanamu (Medan), Juanda (Surabaya), Ngurah Rai (Denpasar), dan Sultan Hasanuddin (Makasar) turun Rp170 per liter selama periode tersebut.

    Area Manager Communication and Relations Jawa Bagian Barat, Marketing Operation Region III, PT Pertamina, Yudy Nugraha mengatakan, harga baru avtur yang menjadi Rp 5.490 per liter itu diberlakukan dua pekan mulai besok, yakni periode 15-31 Januari. Dua pekan ini Pertamina juga telah menurunkan harga avturnya Rp 200 per liter. “Sudah dua kali turunnya,” kata dia saat dihubungi Tempo, Kamis, 14 Januari 2016.

    Menurut Yudy, penurunan harga avtur tiap bandara berbeda, bergantung wilayahnya. Di wilayah Jawa Bagian Barat yang meliputi DKI, Jawa Barat, dan Banten penurunan Rp 170 per liter itu berlaku hanya di bandara Soekarno-Hatta.

    Yudy mengatakan, penurunan harga avtur di bandara yang berada di wilayah Jawa Bagian Barat lebih rendah dibandingkan harga penurunan rata-rata avtur nasional yakni Rp 143 per liter. “Harganya elbih rendah karena lokasinya lebih dekat ke jalur distribusi,” kata dia.

    Pertamina memutuskan menurunkan lagi harga avtur yang berlaku dua pekan ke depan mempertimbangkan tren penurunan harga minyak dunia. Harga avtur akan kembali di evaluasi lagi selepas 31 Januari 2015.

    Yudy mengatakan, penurunan harga avtur tidak berimbas pada konsumsi. Pertamina memilih menurunkan harga avtur untuk mendukung industri penerbangan nasional. “Avtur itu unik, konsuminya tergantung jumlah penumpang. Seperti kemarin waktu libur panjang ada kenaikan konsumsi,” kata dia.

    Konsumsi rata-rata avtur di empat bandara di wilayah Jawa Bagian Barat itu 5.637 kilo liter per hari. Konsumsi terbesar di Bandara Soekarno-Hatta yang seharinya bisa menyerap 5.050 kiloliter avtur.

    Sebelumnya, harga minyak mentah dunia diprediksi terus anjlok menuju level 20 Dollar AS per barel tahun ini. Lembaga riset Morgan Stanley yakin harga minyak di level itu sangat mungkin terjadi akibat sentimen negatif devaluasi yuan sehingga harga komoditas turut anjlok.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?