Indonesia Butuh Lebih Banyak Pengusaha Muda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengusaha katering dan restoran, Gibran Rakabuming Raka, menunjukan kemasan martabak yang diproduksinya, Selasa 28 April 2015. Pemuda berusia 27 tahun ini dikenal sebagai pengusaha di bidang makanan di kota Solo. TEMPO/Ahmad Rafiq

    Pengusaha katering dan restoran, Gibran Rakabuming Raka, menunjukan kemasan martabak yang diproduksinya, Selasa 28 April 2015. Pemuda berusia 27 tahun ini dikenal sebagai pengusaha di bidang makanan di kota Solo. TEMPO/Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO, Surabaya - Memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN pada penghujung tahun ini, Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha muda untuk menggerakkan perekonomian. “Dibanding negara-negara tetangga, jumlah pengusaha muda di Indonesia masih kalah banyak,” kata Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Himpi) Bahlil Lahadalia saat membuka rangkaian acara Sidang Pleno I dan Munas Khusus Himpi di Surabaya, Sabtu, 7 November 2015.

    Menurut Bahlil, jumlah pengusaha muda minimal 2 persen dari total jumlah penduduk suatu negara. Indonesia yang berpenduduk sekitar 250 juta jumlah pengusaha mudanya hanya 1,4 persen. “Kita masih di bawah rata-rata ASEAN,” ucapnya.

    Singapura, misalnya, jumlah pengusaha mudanya mencapai 7 persen. Negara tetangga lain, Malaysia, memiliki 5 persen pengusaha muda.

    Bahlil berujar, diperlukan revolusi mental, terutama di kalangan mahasiswa, untuk mendongkrak jumlah pengusaha muda. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Himpi pusat tentang pandangan karier mahasiswa Indonesia selama dua bulan, 83 persen dari lima juta mahasiswa lebih ingin menjadi karyawan atau pegawai negeri sipil (PNS). “Mereka mau kaya. Nah, kalau mau kaya, ya hukum alamnya jadilah pengusaha,” tuturnya.

    Bahlil mengatakan Indonesia sebenarnya akan mengalami bonus demografi pada 2030 dan mencapai puncak tahun 2035. “Kita harus manfaatkan bonus demografi ini.”

    Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardjojo berujar, era MEA seharusnya disikapi dengan mempersiapkan diri agar dapat memenangi kompetisi. Supaya pertumbuhan ekonomi terjaga kuat, harus ada kesinambungan dan inklusivitas. “Percuma saja pertumbuhan ekonomi tinggi tapi jarak antara yang kaya dan miskin makin jauh,” ucapnya.

    Untuk mencapainya, masyarakat, termasuk pengusaha muda, diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan produktivitas. Selain agar dapat bersaing dengan negara tetangga, hal itu untuk menjaga kemandirian ekonomi Indonesia. “Seharusnya kita bisa mengurus sendiri kebutuhan pemenuhan barang-barang dan jasa strategis,” tutur Agus.

    ARTIKA RACHMI FARMITA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.