ISEI Prediksi Sektor Koperasi dan UKM Akan Kalah Bersaing  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengerajin menata topeng pada Pameran Interior dan Craft 2015 di JCC, Jakarta, 11 Juni 2015. Indonesia perlu penanganan khusus dalam meningkatkan kesiapan wirausaha UMKM untuk menghadapi MEA 2015. Tempo/Tony Hartawan

    Pengerajin menata topeng pada Pameran Interior dan Craft 2015 di JCC, Jakarta, 11 Juni 2015. Indonesia perlu penanganan khusus dalam meningkatkan kesiapan wirausaha UMKM untuk menghadapi MEA 2015. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Bandung - Sektor usaha kecil dan menengah diprediksi tidak akan mampu bersaing tatkala keran Masyarakat Ekonomi ASEAN mulai dibuka pada pengujung tahun 2015. Hal itu disampaikan Ketua Fokus Grup UMKM Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Ina Primiana dalam seminar nasional "Integrasi UMKM dalam Global Value Chain" di gedung Bank Indonesia perwakilan Jawa Barat di Jalan Braga, Kota Bandung, Selasa, 29 September 2015.

    "Seberapa kuat, seberapa berperan dan mampu UMKM kita untuk masuk ke situ. Ternyata kalau dilihat lagi angkanya enggak sampai 1 persen gitu loh dari perdagangan di Asia, berarti kan masih banyak ‘PR’ yang harus kita lakukan supaya mereka bisa sejajarlah dengan UMKM yang ada di negara-negara lain," ujarnya.

    Menurut Ina, peran pemerintah dalam melakukan pembenahan pada sektor UMKM ini dinilai belum maksimal. Pasalnya, kata dia, instansi pemerintah yang mengurus masalah perbaikan itu masih belum terintegrasi antara yang satu dan yang lain. "Mereka bekerja sendiri-sendiri," katanya.

    Berdasarkan data World Economic Forum (WEF), peringkat Indonesia berada pada posisi ke-34 dalam hal daya saing perekonomian pada 2014-2015. Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara di ASEAN lainnya, seperti Malaysia yang menempati peringkat ke-20, Thailand di peringkat ke-31, dan Singapura berada pada peringkat ke-2.

    Hal ini, kata dia, merupakan salah satu indikator ketidaksiapan pelaku sektor UMKM untuk menghadapi pasar bebas ASEAN. Apalagi, ucap dia, pemerintah seolah belum bisa mengurai permasalahan yang menimpa sektor UMKM.

    Harusnya, kata Ina Primiana, ada pemilahan yang jelas dalam pengkategorian UMKM itu sehingga mudah dalam mengurai permasalahannya, mana yang terjebak pada masalah perizinan, permodalan, dan yang lainnya. "Pemerintah belum sampai komprehensif begitu karena pemerintah itu bekerjanya masih parsial, jadi tidak terintegrasi, itu yang menyebabkan barang kita survive-nya sendiri-sendiri," tuturnya.

    Peneliti utama Kementerian Negara Koperasi dan UKM, Johny W. Situmorang, tetap merasa optimistis bahwa sektor koperasi dan UKM akan bisa bersaing di tengah pergolakan pasar bebas ASEAN nanti. Perbaikan ke arah sana pun tengah digalakkan oleh pihaknya. Dia mengatakan, hingga saat ini, koperasi dan UKM di Indonesia berjumlah sekitar 57 juta. Namun itu pun masih belum terpilah secara jelas. "Datanya berdasarkan survei dari BPS saja. Tahun depan kita akan lakukan sensus lagi agar bisa terpilah," ucapnya.

    AMINUDIN A.S.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.